Langsung ke konten utama

Postingan

Meluruskan Ilusi Legacy

Dalam dunia pengembangan diri sekuler, ada satu pertanyaan pamungkas yang sering dilontarkan dengan nada dramatis di sesi seminar-seminar motivasi: " Apa yang ingin orang kenang tentang Anda saat Anda tiada? " Sekilas, pertanyaan itu terdengar heroik, menggugah, dan visioner. Namun kalau kita bedah pakai pisau bedah tauhid, pertanyaan itu sebenarnya menyimpan racun spiritual yang sangat mematikan. Dalam Islam, kita punya satu mesin penggerak utama bernama ikhlas,  sebuah kondisi yang tindakan dimurnikan seratus persen hanya untuk Allah. Musuh bebuyutan dari ikhlas adalah riya (haus akan validasi/pandangan manusia) dan sum'ah (lapar agar kebaikannya didengar dan diceritakan orang lain). Pertanyaan "ingin dikenang sebagai apa" sejatinya adalah jebakan maut bagi ego. Kalau kita nggak waspada, obsesi "meninggalkan legacy " akan membajak niat kita. Alih-alih merancang amal jariyah (kebaikan yang terus mengalir melintasi batas umur biologis), kita tanpa ...

Menghidupkan Kembali "Burung-Burung" Peradaban yang Mati

Kemarin aku mengikuti workshop Agile Hijrah Coaching, salah satu isinya merumuskan purpose of life. Meminjam kerangka berpikir dari  Jack Canfield , salah satu penulis di balik  seri buku legendaris Chicken Soup for the Soul , yang sering merumuskan life purpose ke dalam formula praktis, sebuah tujuan hidup yang kuat harus menggabungkan tiga elemen dasar: Kata Kerja (Aksi) + Kontribusi/Target + Hasil/Dampak Akhir. Awalnya aku menuliskan, "MENOLONG dan MELAYANI MASYARAKAT agar mereka hmm.. , rasanya itu purpose nya ASN. Ada sedikit trauma sewaktu menolong orang lain, saat Jumat Berkah misalnya. Mungkin saking banyaknya di Surabaya, orang sampai bertanya, "Apa lauknya?" Wah, batinku bergumam, "Nggak tahu diri". Bahkan ada yang setelah dibagi, dimakan lauknya lalu dibuang nasinya. Astaghfirullah. Umat ini lagi nggak baik-baik saja, beneran. Jadi, mari kita mulai dengan mendekonstruksi sebuah dialog epik yang terekam dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 260). Sewak...

Merayakan Lebaran di Desa Tetangga

Malam itu, perbincangan dengan seorang tetangga lama di gang rumah sebelumnya membawaku pada perenungan panjang. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang meluap-luap, ia menceritakan epik mudiknya ke desa. Di matanya, perayaan malam Idul Fitri di desanya tahun ini adalah puncak dari segala kemegahan. Formula keagungannya, menurut narasinya, diukur dari skala logistik dan kebisingan: sebuah armada pawai takbiran dari 50-an mobil, dikawal tiga pikap pengangkut sound horeg . Buat yang belum familier, sound horeg bukan cuma pengeras suara biasa, tapi monster audio, tumpukan speaker raksasa dirancang buat menggetarkan kaca jendela, merontokkan genteng, dan memompa detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya. Malam itu di jalanan desa, sound horeg ditahbiskan jadi monumen kemeriahan. Euforia massa ternyata nggak bisa dibendung cuma satu ronde. Setelah menginvasi jalanan selepas Isya sampai 10 malam, adrenalin warga belum juga surut. Pukul 11 malam, monster bising ini kembali dihidupkan,...

Bicara dengan AI, Bicara dengan Orang Mati

Bismillahirrahmanirrahim  Setiap kejadian ada sisi baik dan buruknya, pasti. Tinggal mau pakai kacamata mana, minus atau plus? Alhamdulillah, dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dampak negatifnya tentu ada, tapi aku memilih untuk memanfaatkan kebaikannya, selama aku memang bisa mengendalikan diri. Kenapa bahas pengendalian diri? Coba jujur aja sama diri sendiri sewaktu berhadapan sama media sosial, bisa tahan berapa lama nggak scroll timeline? Dulu waktu mampunya beli sedikit kuota internet mungkin terpaksa menahan diri membuka konten reels atau short, tapi sekarang punya kuota besar dan mungkin unlimited, apa bisa selektif buka yang penting aja? Penting ini bukan cuma dilihat dari isi kontennya. Mungkin konten yang kita tonton itu bermanfaat, isinya kajian ilmiah atau fakta-fakta strategis, tapi apa sudah dipastikan bahwa konten yang kita dapatkan benar-benar sesuai sama kebutuhan kita? Aku yang introvert, Alhamdulillah, bisa merasakan, Oh I fe...

Menikmati Ketidaknormalan Air

Bismillah  Tafakkur ayat laut (QS An Nahl: 14) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ  "Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur." QS. An-Nahl[16]:14   Allah menundukkan lautan kepada kita agar kita bisa makan ikan, menemukan perhiasan, perahu bisa berlayar, dan mencari karunia Allah yang lain supaya kita bersyukur. Apa hikmah dari lautan yang ditundukkan Allah? Apa maksud Allah menundukkan lautan? Kita sama² tahu, lautan terbentuk dari air yang bercampur dengan mineral² bumi sehingga terasa asin....

Reminder: Buat Apa Sekolah?

Bismillah Baru kali ini terasa punya urgensi untuk menulis di blog. Kadang ada kata² yang ingin kita sampaikan pada keluarga, pada teman, atau rekan kerja tidak kesampaian karena suatu hal, biarkan tulisan ini dibaca oleh dunia.. Hampir 1 dekade yang lalu aku mengkritisi dunia sekolah yang tak punya arah. Bukan, bukannya tak punya arah, tapi arahnya tak lengkap. Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar dengan sungguh² agar nilainya bagus? Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar yang tekun agar bisa tembus di kuliah ternama? Apa kelanjutannya? Dapat posisi kerja yang nyaman yang ujungnya penghasilan yang besar. Sudah, berhenti di situ. Lalu apa yang menjadi masalah? Aku tidak pernah mendengar dari satu guru pun yang mencourage murid²nya menjadi orang yang bermanfaat atau menjadi orang yang mampu memperbaiki lingkungannya. Paling mentok di "semoga ilmunya barakah" itu pun jarang sekali. Itulah yang kukritisi. Jika ada orang yang menmengata...

Ramadan Kali Ini dengan Kali Lalu

Bismillah, Ada beberapa perbedaan Ramadan yang aku jalani saat ini dengan Ramadan sebelumnya. Tahun : jelas beda lah ya Musim : tahun sebelumnya rata-rata kemarau. Sekarang mirip sih, tapi di 10 Ramadan terakhir kali ini banyak mendungnya (bikin khawatir)* Suhu : tahun sebelumnya suhu di beberapa hari Ramadan terakhir sempat 21. Ramadan tahun ini nggak pernah lihat suhu, hehe. Sepertinya nggak sampai 23 sih. Kondisi : tahun kemarin dunia baik-baik saja. Tahun ini negara api menyerang (wabah covid-19), jadinya nggak bisa keluyuran. Kota : 7 hari pertama tahun kemarin di Purwakarta dan Depok, sisanya di Surabaya, beberapa hari terakhir sempat di Sragen-Jogja. Sekarang full di Denpasar. Eh, ngapain di Denpasar? Lokasi : tahun kemarin itu di rumah, di masjid, di kantor, di kereta, di bis, di rumah teman, di kutab, di markas startupnya Pak Iqbal. Tahun ini full di kosan, kadang keluar beli makanan dan bahan makanan sih. Eh, di kosan? Sejak kapan ngekos? Eh, nggak ding. Sempat beberap...