Langsung ke konten utama

Meluruskan Ilusi Legacy

Dalam dunia pengembangan diri sekuler, ada satu pertanyaan pamungkas yang sering dilontarkan dengan nada dramatis di sesi seminar-seminar motivasi: "Apa yang ingin orang kenang tentang Anda saat Anda tiada?" Sekilas, pertanyaan itu terdengar heroik, menggugah, dan visioner. Namun kalau kita bedah pakai pisau bedah tauhid, pertanyaan itu sebenarnya menyimpan racun spiritual yang sangat mematikan.

Dalam Islam, kita punya satu mesin penggerak utama bernama ikhlas, sebuah kondisi yang tindakan dimurnikan seratus persen hanya untuk Allah. Musuh bebuyutan dari ikhlas adalah riya (haus akan validasi/pandangan manusia) dan sum'ah (lapar agar kebaikannya didengar dan diceritakan orang lain).

Pertanyaan "ingin dikenang sebagai apa" sejatinya adalah jebakan maut bagi ego. Kalau kita nggak waspada, obsesi "meninggalkan legacy" akan membajak niat kita. Alih-alih merancang amal jariyah (kebaikan yang terus mengalir melintasi batas umur biologis), kita tanpa sadar malah menghabiskan umur buat membangun sebuah monumen ego.

Mari kita bedah letak kerusakan fatal dari konsep legacy populer ini.

Dalam literatur manajemen modern, legacy atau warisan selalu berpusat pada "nama baik". Fokus utamanya adalah sang subjek: siapa orangnya. Sebaliknya paradigma Wahyu nggak pernah meributkan soal popularitas nama di bumi. Islam mengajarkan kita untuk mengejar atsar (jejak, bekas, atau sistem manfaat yang ditinggalkan).

Untuk melihat perbedaannya, mari kita adu paradigma dua visi ini:

  • Visi populer: "Aku ingin dikenang sebagai penulis hebat dan tokoh peradaban." Visi ini berfokus pada diri sendiri. Ia butuh tepuk tangan audiens. Sangat rapuh dan rawan tergelincir ke dalam jurang riya.

  • Visi berbasis wahyu: "Aku ingin ilmu atau sistem yang kutulis ini terus beroperasi mengalirkan manfaat dan keadilan bagi umat." Visi ini berfokus pada hasil kerja. Ia nggak peduli mau namanya diukir di batu marmer atau dilupakan sejarah, yang penting mesin kebaikannya terus menyala. Visi ini jauh lebih aman secara spiritual.

Mereset Pertanyaan Fundamental

Karena pertanyaan standar "ingin dikenang sebagai apa" terbukti korup secara spiritual dan berbahaya bagi kompas niat kita, saatnya membuang pertanyaan usang tersebut dari kurikulum kehidupan kita.

Kita harus menggantinya dengan kerangka berpikir yang lebih syar'i dan berorientasi pada penciptaan sistem. Ke depan, tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini pada diri sendiri:

"Di hari hisab nanti, ketika bumi telah dihancurkan, timbangan kebaikan seberat apa yang ingin kamu persembahkan kepada Allah melalui karya dan sistem yang kamu bangun di dunia?"

Atau kalau ditarik ke dalam bahasa pergerakan peradaban:

"Sistem atau panggilan peradaban seperti apa yang ingin kamu rakit hari ini, agar ia terus bekerja secara otomatis sebagai amal jariyah saat tubuhmu sudah tak bisa beramal lagi?"

Terasa jauh lebih powerful dan berbobot bukan?

Itulah cara berpikir seorang Muslim yang akalnya dibimbing oleh keimanan kepada Allah dan Hari Akhir. Kita hidup bukan buat memahat nama di atas batu nisan, melainkan beroperasi buat memastikan bahwa saat kita pergi, ada sistem kebaikan yang terus bertarung membela kebenaran di dunia ini menjadi bekal pemberat timbangan kebaikan di Hari Akhir nanti.

Bismillah, yuk ikhlaskan niat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....