Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kontemplasi

Menggeser Cita-cita: Dari Ketokohan ke Kebermanfaatan

Sebuah tulisan dari peneliti aerospace Nepal, membawa sebuah cerita yang begitu membekas. Tulisan itu nggak panjang, tetapi cukup buat meruntuhkan cara pandang kita tentang apa yang selama ini kita anggap sebagai prioritas, tentang kelangsungan hidup, dan tentang gimana teknologi raksasa bekerja di luar jangkauan mata kita. ​Ia menulis yang secara terjemahan begini: ​"Hari itu adalah tanggal 25 April 2015, hari ketika gempa bumi bermagnitudo 7,8 mengguncang Nepal. Saya sedang meminta ayah saya untuk memeriksa pekerjaan rumah saya ketika rak-rak buku tiba-tiba bertumbangan. Sebuah vas yang jatuh mencederai tangan saudara perempuan saya. Selama berminggu-minggu, tak terhitung banyaknya warga Nepal, termasuk keluarga saya sendiri, tidur di tanah terbuka karena kami tidak lagi percaya dinding di sekeliling kami dan lantai di bawah kami. Langit terbuka yang luas adalah satu-satunya hal yang saya anggap aman. Berbaring di sana pada suatu malam, saya ingat merasakan sebuah pemikiran, ...

Meluruskan Ilusi Legacy

Dalam dunia pengembangan diri sekuler, ada satu pertanyaan pamungkas yang sering dilontarkan dengan nada dramatis di sesi seminar-seminar motivasi: " Apa yang ingin orang kenang tentang Anda saat Anda tiada? " Sekilas, pertanyaan itu terdengar heroik, menggugah, dan visioner. Namun kalau kita bedah pakai pisau bedah tauhid, pertanyaan itu sebenarnya menyimpan racun spiritual yang sangat mematikan. Dalam Islam, kita punya satu mesin penggerak utama bernama ikhlas,  sebuah kondisi yang tindakan dimurnikan seratus persen hanya untuk Allah. Musuh bebuyutan dari ikhlas adalah riya (haus akan validasi/pandangan manusia) dan sum'ah (lapar agar kebaikannya didengar dan diceritakan orang lain). Pertanyaan "ingin dikenang sebagai apa" sejatinya adalah jebakan maut bagi ego. Kalau kita nggak waspada, obsesi "meninggalkan legacy " akan membajak niat kita. Alih-alih merancang amal jariyah (kebaikan yang terus mengalir melintasi batas umur biologis), kita tanpa ...

Menghidupkan Kembali "Burung-Burung" Peradaban yang Mati

Kemarin aku mengikuti workshop Agile Hijrah Coaching, salah satu isinya merumuskan purpose of life. Meminjam kerangka berpikir dari  Jack Canfield , salah satu penulis di balik  seri buku legendaris Chicken Soup for the Soul , yang sering merumuskan life purpose ke dalam formula praktis, sebuah tujuan hidup yang kuat harus menggabungkan tiga elemen dasar: Kata Kerja (Aksi) + Kontribusi/Target + Hasil/Dampak Akhir. Awalnya aku menuliskan, "MENOLONG dan MELAYANI MASYARAKAT agar mereka hmm.. , rasanya itu purpose nya ASN. Ada sedikit trauma sewaktu menolong orang lain, saat Jumat Berkah misalnya. Mungkin saking banyaknya di Surabaya, orang sampai bertanya, "Apa lauknya?" Wah, batinku bergumam, "Nggak tahu diri". Bahkan ada yang setelah dibagi, dimakan lauknya lalu dibuang nasinya. Astaghfirullah. Umat ini lagi nggak baik-baik saja, beneran. Jadi, mari kita mulai dengan mendekonstruksi sebuah dialog epik yang terekam dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 260). Sewak...

Merayakan Lebaran di Desa Tetangga

Malam itu, perbincangan dengan seorang tetangga lama di gang rumah sebelumnya membawaku pada perenungan panjang. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang meluap-luap, ia menceritakan epik mudiknya ke desa. Di matanya, perayaan malam Idul Fitri di desanya tahun ini adalah puncak dari segala kemegahan. Formula keagungannya, menurut narasinya, diukur dari skala logistik dan kebisingan: sebuah armada pawai takbiran dari 50-an mobil, dikawal tiga pikap pengangkut sound horeg . Buat yang belum familier, sound horeg bukan cuma pengeras suara biasa, tapi monster audio, tumpukan speaker raksasa dirancang buat menggetarkan kaca jendela, merontokkan genteng, dan memompa detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya. Malam itu di jalanan desa, sound horeg ditahbiskan jadi monumen kemeriahan. Euforia massa ternyata nggak bisa dibendung cuma satu ronde. Setelah menginvasi jalanan selepas Isya sampai 10 malam, adrenalin warga belum juga surut. Pukul 11 malam, monster bising ini kembali dihidupkan,...