Malam itu, perbincangan dengan seorang tetangga lama di gang rumah sebelumnya membawaku pada perenungan panjang. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang meluap-luap, ia menceritakan epik mudiknya ke desa. Di matanya, perayaan malam Idul Fitri di desanya tahun ini adalah puncak dari segala kemegahan. Formula keagungannya, menurut narasinya, diukur dari skala logistik dan kebisingan: sebuah armada pawai takbiran dari 50-an mobil, dikawal tiga pikap pengangkut sound horeg . Buat yang belum familier, sound horeg bukan cuma pengeras suara biasa, tapi monster audio, tumpukan speaker raksasa dirancang buat menggetarkan kaca jendela, merontokkan genteng, dan memompa detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya. Malam itu di jalanan desa, sound horeg ditahbiskan jadi monumen kemeriahan. Euforia massa ternyata nggak bisa dibendung cuma satu ronde. Setelah menginvasi jalanan selepas Isya sampai 10 malam, adrenalin warga belum juga surut. Pukul 11 malam, monster bising ini kembali dihidupkan,...
Introvert tidak bercerita lewat lidahnya