Tampilkan postingan dengan label desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desa. Tampilkan semua postingan

29 Maret 2026

Merayakan Lebaran di Desa Tetangga

Malam itu, perbincangan dengan seorang tetangga lama di gang rumah sebelumnya membawaku pada perenungan panjang. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang meluap-luap, ia menceritakan epik mudiknya ke desa. Di matanya, perayaan malam Idul Fitri di desanya tahun ini adalah puncak dari segala kemegahan.

Formula keagungannya, menurut narasinya, diukur dari skala logistik dan kebisingan: sebuah armada pawai takbiran dari 50-an mobil, dikawal tiga pikap pengangkut sound horeg.

Buat yang belum familier, sound horeg bukan cuma pengeras suara biasa, tapi monster audio, tumpukan speaker raksasa dirancang buat menggetarkan kaca jendela, merontokkan genteng, dan memompa detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya. Malam itu di jalanan desa, sound horeg ditahbiskan jadi monumen kemeriahan.

Euforia massa ternyata nggak bisa dibendung cuma satu ronde. Setelah menginvasi jalanan selepas Isya sampai 10 malam, adrenalin warga belum juga surut. Pukul 11 malam, monster bising ini kembali dihidupkan, membelah keheningan malam perpisahan dengan bulan suci, entah sampai jam berapa. Warga bersorak. Di mata mereka, ini sebuah kemenangan mutlak.

Namun bagian paling ironis dari narasi ini yang dianggap jadi nilai plus adalah manuver panitia memberi "legitimasi religius" pada karnaval desibel tinggi itu. Didatangkanlah rombongan santri dari pesantren mentereng, L******n, diimpor khusus buat memimpin gema takbir di atas kendaraan sekaligus jadi imam dan khatib keesokan harinya.

Ia menutup ceritanya dengan kesimpulan betapa "wah" dan suksesnya malam itu. Aku cuma tersenyum dan mengangguk. Namun di dalam kepalaku sebuah dekonstruksi makna sedang terjadi, seolah-olah, kesakralan itu bisa di-outsourcing-kan.

Selama ada barisan santri bersarung melafalkan kalimat takbir di garis depan, betapapun brutalnya distorsi bass menghajar dada di belakang mereka, acara pesta pora tersebut akan tetap berstempel "islami". Agama direduksi fungsi dan maknanya.

Di sinilah akal sehat dan empati spiritual kita diuji. Kalau kemenangan Idul Fitri, kembalinya manusia pada fitrah, dirayakan lewat membunuh keheningan dan merampas waktu kontemplasi, lalu buat apa sebenarnya rutinitas menahan lapar dan dahaga selama 30 hari ke belakang?

Bukankah esensi puasa Ramadan adalah sebuah madrasah agung buat menundukkan ego, mengendalikan syahwat duniawi, dan menajamkan kepekaan batin? Gimana mungkin bulan yang melatih kita buat berinteraksi dalam senyap dengan Rabb di sepertiga malam, ditutup dengan kebrutalan audio yang justru menenggelamkan suara hati itu sendiri?

Di tengah kebanggaannya atas rentetan mobil dan getaran sound horeg itu, terselip sebuah pertanyaan eksistensial yang menyedihkan: apa nggak ada setitik pun rasa kehilangan di hati kita waktu Ramadan pergi? Air mata perpisahan dengan bulan suci yang biasanya menetes di atas sajadah, malam itu digantikan deru distorsi speaker raksasa. 

Pada akhirnya, malam takbiran di desa itu, yang mungkin juga di desa-desa lainnya, merekam tragedi modern: peradaban kita sangat mahir merayakan cangkangnya, tapi entah sejak kapan kita kehilangan isinya.

03 Mei 2017

Pergi Saja ke Desa Sebelah

Bismillah

Selepas kembali ke Kota Situbondo, salah seorang temanku mengingatkanku, "Kenapa tidak menginap saja?" Ide yang sangat bagus. Mengingat jarak antara kota dengan lokasi desa terpencil terdekat melebihi 20 KM, ide itu kutelan dengan senang hati. Berangkatlah menuju desa-desa terpencil.

Entah, apa yang kupikirkan saat itu. Aku berniat bermalam di pelosok desa dengan gaya bonek, bondo nekat. Yep, kalau tak salah uang yang kubawa dalam dompet waktu itu hanya 200 ribu rupiah. Meski ada kartu ATM, kartu itu tak begitu mudah untuk dipakai karena lokasi ATM juga ada di sekitar kota. Pakaian ganti hanya bawa 2 lapis pakaian inti, selapis pakaian cadangan, dengan sikat gigi, odol, sabun, tanpa handuk. Laptop, charger laptop, power bank, kabel data, pocket camera, tanpa charger ponsel. Ya, waktu itu ponsel tak begitu berguna untuk komunikasi karena sinyal operator yang kugunakan tidak terjangkau. Alhasil, ponsel kualihfungsikan menjadi kamera dengan mode pesawat. Jadi, tak perlu bawa charger ponsel. Berapa hari aku di pelosok desa? 3 hari 3 malam.


22 Maret 2017

Kembang Desa Gunung

Bismillah

Aku nggak menyangka sebelumnya, perjalanan berbatu, terjal, dan berliku terlewati. Butuh waktu sekitar 4 hari buat menjelajahi desa-desa tertinggal yang ada di pelosok Kabupaten Situbondo. Gimana sih kondisinya?

Sebenernya ini bagian dari penelitianku yang kata banyak orang butuh waktu lama buat menyelesaikannya. Kata pak Anon (lupa namanya), eks Kabid Perekonomian Bappeda Kab. Situbondo, aspek penelitianku terlalu banyak. Kata Mas Arie, "Big Data" Bappeda Kab. Situbondo, satu perencanaan pengentasan kawasan desa tertinggal (berisikan dua desa) menghasilkan beratus halaman buku tebal yang tiga bulan belum selesai pengerjaaanya. "Kepalamu bisa pecah." Memang sih, sebaiknya fokus ke satu desa. Banyak desa boleh-boleh aja. Hanya aja, arahan pengembangan hasil penelitianku nanti nggak begitu mendalam. Ohya, lingkup wilayahnya ada 12 desa.