Langsung ke konten utama

Cita-cita

Bismillah

Sah-sah aja membuat cita-cita secara spontan, ngasal. Pergi ke bulan, atau memiliki jet pribadi. sah memang, itu hak pembuat cita-cita. Cuman aku nggak bisa kayak gitu. Aku perlu membaca situasi, memilih cita-cita apa yang harus kumiliki, dilihat dari prioritasnya. Ilustrasinya kayak gini:

Betapa banyak orang yang berkali-kali naik haji atau umroh. Andai saja mereka memahami betapa banyak penduduk miskin di pedesaan, tentu mereka takkan peduli *eh. Maksudku adalah, ada hal lain yang lebih penting daripada melakukan itu..

Hafal Al Quran:
Al Mufashshal
Al Mutsaani
Baca kitab Al Muuqidzah
Perpustakaan IPB
Haji
Perpustakaan Salman ITB
Azan Subuh di lima masjid
Naked Milky Way
Masjid Nabawi
Teknik PPGD
Al Aqsa + Pembebasan
Perpustakaan UI
Sawah sendiri (subsisten)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....