Langsung ke konten utama

Minaret yang Terluka

Bismillah

Sore tadi, dunia seakan mencekam. Entah apa yang kupikirkan, kubuka jendela kamarku, kulangkahkan kaiku menaiki atap sebagaimana dulu ketika aku SD SMP. Masih segar dalam ingatanku. Aku meraih atap tertinggi, menatap cakrawala, menandang tepian daratan, mengembangkan cita-cita. Tapi kali ini aku tak berniat seperti itu. Aku hanya ingin mendapatkan angin segar untuk membacakan ayat-ayat Al Quran di tempat yang tenang, menenangkan diri yang resah.

Awalnya aku menghadap jalanan. Ah, hingar bingar manusia melintasi jalan tak sedap dilihat. Kualihkan hadapanku membelakangi jalan. Ya, itu lebih baik. Hampir saja aku duduk, terdengar keras di langit, "Astaghfirullah, rabbal baraya, astaghfirullah, minal khataya.."

Astaghfirullah! Di manakah bisa kudapatkan tempat yang tenang!

...

Tak peduli. Aku tetap duduk dan membuka Al Quranku lalu kubaca dari ayat terakhir yang kubaca. Tak lama kemudian, suara-suara itu berdatangan dari berbagai arah. Dari berbagai menara, sebagiannya terdengar serak-serak basah. Astaghfirullah.. Kukeraskan bacaanku, muncul suara baru. Kukeraskan bacaanku, muncul suara baru. Aku jadi kehilangan kekhusyukanku..

Teringat dengan kata-kata yang pernah terlempar dari lisan wakil presiden di awal masa jabatannya, speaker menara masjid harus ditata. Ya, harus ditata, bahkan lebih dari itu. Orang-orang harus dicerdaskan, apa syiar itu. Coba tengok azan yang ada di Dagestan ini.


Ini azannya terdengar merdu, begitu indah untuk dinikmati. Belum lagi dengan azan yang membuat orang terperangah ketika mendengarnya


Yep, itulah yang terjadi di internasional. Syiar Islam begitu rapi, tak serampangan asal ada speaker, belum lagi yang membunyikan orang yang sudah sepuh, suaranya serak-serak tak jelas, nada yang dibacakan juga tak merdu. Bagaimana mungkin bisa menyentuh hati? Semoga orang-orang mulai berpikir apa yang ia lakukan dan tak terjebak oleh kebiasaan semata.

-Dari pemuda yang sering terrenggut kekhusyukannya di sepertiga malam terakhir-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....