Langsung ke konten utama

Tema Baru Liburan

Bismillah

Di antara perihnya mata plus nyeri tulang, berita duka terdengar dari jauh di sana. Aku teringat dengan sebagian kisah Pangeran Dipo Negoro versi bukan buku sekolah. Kita tahu sendiri buku sejarah di sekolah itu nggak banget. Aku nggak merasakan rasa cintaku akan negeriku sendiri bertambah setelah baca buku itu. Sejarah santri dalam mempertahankan kemerdekaan pun tak dibahas sama sekali, padahal pesantren di Indonesia tak terkira jumlahnya. Adanya, Islam sebagai pemberontak seperti DI/TII..



Kembali lagi ke kisah Dipo Negoro yang kuterima dari penutur Jogja. Kisahnya luar biasa! Belum pernah kudengar kisah versi itu. Kisahnya tak hanya menampilkan sosok heroik dari sang Pangeran, tapi juga imbas dari penjajahan Inggris-Belanda yang mengacaukan sistem keraton Hamengku Buwono. Tak kusangka, kondisi keraton saat itu sangat Islami. Sultan yang fasih berbahasa Arab, hijab sang istri yang syar'i, tarian keraton yang berkomposisi laki-laki tanpa perempuan, dll. Kondisinya sangat berbeda dengan sekarang, bahkan dengar-dengar keraton sekarang dipimpin seorang nonis. Wallahu a'lam..

Mendengar kisah ini, aku teringat dengan kajian yang dikirimkan temanku dari Jawa Barat. Pentingnya mengenal nasab. Dengan nasab, kau akan lebih mudah mengenali potensimu. Dengan nasab, kau akan mengenal sejarahmu. Dengan nasab, kau akan lebih terjaga karena menjaga nama baik nasabmu.



Setelah kutanyakan kepada Ayahku, keluargaku bukanlah pemegang tradisi tulis-menulis. Garis nasab pun harus dilacak ulang yang berarti saatnya bersiap untuk berlibur dengan tema baru, sebelum garis itu terhapus dari sejarah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....