Mari kita mulai dengan mendekonstruksi sebuah dialog epik melintasi dimensi yang terekam dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 260). Ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam meminta Allah memperlihatkan bagaimana cara menghidupkan makhluk yang mati, Allah merespons dengan sebuah pertanyaan fundamental: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab dengan lugas: "Aku telah yakin, akan tetapi agar hatiku tetap tenang (mantap)."
Mari kita luruskan satu hal: Ibrahim tidak sedang ragu. Beliau adalah arsitek tauhid; imannya tidak perlu diperdebatkan. Namun, iman yang sekadar bersarang di dalam dada (Ilmul Yaqin) terkadang membutuhkan pembuktian empiris ('Ainul Yaqin) di dunia nyata agar konstruksi jiwa menjadi benar-benar kokoh, rasional, dan tak tergoyahkan. Ibrahim menuntut realitas.
Siklus psikologis yang sama sebenarnya sedang menghantam umat Islam hari ini. Secara akidah, kita mengklaim yakin seratus persen bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak. Namun, ketika umat Islam membuka mata dan melihat realitas duniawi—di mana negara-negara sekuler jauh lebih superior secara teknologi, lebih makmur secara ekonomi, dan secara ironis lebih disiplin—hati umat menjadi "tidak tenang".
Sindrom inferioritas itu perlahan menggerogoti. Keresahan ini muncul bukan karena kita meragukan Tuhan, melainkan karena kita kehilangan pembuktian empiris tentang kejayaan Islam di dunia nyata. Narasi kejayaan kita hari ini lebih sering terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu, bukan realitas hari ini.
Jika umat Nabi Isa 'alaihissalam bisa meminta hidangan langsung turun dari langit (Ma'idah) dan seketika dikabulkan, umat Muhammad tidak lagi memiliki kemewahan keajaiban instan semacam itu.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah nabi penutup. Wahyu telah dikunci 14 abad yang lalu. Tongkat Musa yang mampu membelah lautan secara fisik tidak akan pernah ada lagi. Ini berarti, umat Islam tidak bisa lagi mengatasi ketertinggalan teknologi, krisis ekonomi, kelaparan massal, atau kemalasan akut hanya dengan duduk berdoa menunggu keajaiban, atau yang lebih parah: bersantai menunggu Imam Mahdi turun esok pagi untuk membereskan semua pekerjaan rumah peradaban kita.
Mukjizat terbesar yang diwariskan kepada kita bentuknya bukan lagi tongkat ajaib, melainkan dua hal: Wahyu (Al-Qur'an) dan Akal (Intelektualitas).
Gelar "Kamu adalah umat terbaik (Khaira Ummah) yang dilahirkan untuk manusia..." (QS. Ali 'Imran: 110) bukanlah trofi kehormatan yang dibagikan secara gratis di akhirat. Itu adalah sebuah beban tanggung jawab peradaban di dunia. Menjadi "umat terbaik" menuntut konsekuensi logis: ia harus dibuktikan dengan etos kerja terbaik, inovasi sains terbaik, dan integritas yang paling presisi.
Kembali pada kisah Ibrahim. Allah memerintahkan beliau untuk mengambil empat ekor burung, mencincangnya, meletakkannya di puncak-puncak bukit yang terpisah, lalu memanggilnya. Burung-burung itu kemudian hidup dan datang berlari kepadanya.
Bagi umat Islam abad 21, kita harus melakukan hal yang sama. "Empat burung" kita yang saat ini sedang mati dan tercerai-berai di atas bukit kemunduran adalah: Ilmu Pengetahuan, Kekuatan Ekonomi, Disiplin, dan Etos Kerja.
Kita tidak bisa duduk di kaki bukit dan berharap burung-burung itu merakit dirinya sendiri secara gaib. Kita harus "memanggilnya". Dan bahasa panggilan peradaban hari ini bukanlah sekadar rapal doa tanpa ikhtiar, melainkan tetesan keringat, riset tanpa lelah di laboratorium, pembangunan infrastruktur ekonomi yang adil, dan penolakan garis keras terhadap budaya bermalas-malasan. Pembuktian keimanan kita hari ini bukan lagi dengan adu kesaktian, melainkan dengan memenangi pertarungan peradaban secara elegan.
Mendefinisikan Ulang Tujuan Hidup (Purpose of Life)
Berangkat dari kegelisahan peradaban inilah, kita harus merumuskan ulang alasan kita bangun di pagi hari.
Meminjam kerangka berpikir dari Jack Canfield (salah satu penulis di balik seri buku legendaris Chicken Soup for the Soul—yang sering merumuskan life purpose ke dalam formula praktis), sebuah tujuan hidup yang kuat harus menggabungkan tiga elemen dasar: Kata Kerja (Aksi) + Kontribusi/Target + Hasil/Dampak Akhir.
Jika kemunduran umat ini disebabkan oleh hilangnya pembuktian empiris atas kebenaran teks suci, maka saya menolak untuk hanya menjadi penonton. Berdasarkan formula tersebut, tujuan hidup saya terangkum dalam satu kalimat deklarasi:
"MENGGALI keilmuan dan MENGEKSPRESIKAN kebenaran Islam (Kata Kerja) kepada UMAT ISLAM (Target Kontribusi), agar mereka PERCAYA DIRI menjadi umat terbaik yang menjunjung tinggi KEADILAN berdasarkan Wahyu, bukan sekadar materialisme semu (Hasil)."
Dunia tidak butuh umat yang hanya pandai bernostalgia. Dunia menuntut pembuktian. Dan pembuktian itu dimulai dari kejelasan tujuan hidup kita hari ini.