Langsung ke konten utama

Postingan

Update Pakar Wakaf dari IIUM: Catatan dari GLOW 2026

Kali ini melompat ke sesi materi di Waqf Site Visit di Teras Lembang. Aku sengaja lompat karena sesi sebelumnya di PIK2 nggak ada rekaman yang bisa kusimak. Mencatat pun ala kadarnya karena kadang diajak diskusi atau ada request jarak jauh urusan keuangan yayasan. Kalau sebelumnya Prof. Hamid Rasyid dari IIUM presentasi langsung offiline di atas panggung, sekarang beliau hadir online via Zoom.  Dalam pemaparannya, beliau mengajak kita melintasi sejarah panjang wakaf, bongkar miskonsepsi yang terlanjur mengakar, sekaligus menantang kita buat nggak gagap hadapi pesatnya perkembangan dunia digital. Ini beberapa catatan dan poin reflektif dari sesi materi beliau.  1. Reorientasi Wakaf: Bukan Cuma Amal Selama ini, masih banyak di antara kita yang anggap wakaf sama dengan zakat atau sedekah biasa. Padahal peran dan sifat dasarnya sangat beda. Zakat adalah kewajiban yang fungsinya sebagai pembersih harta (cleansing fund), mirip seperti pemenuhan kewajiban sosial yang diatur khusus ba...
Postingan terbaru

Bongkar Mitos Wakaf Produktif: Catatan dari GLOW 2026

Hadir langsung di The 2nd Global Conference on Waqf Development (GLOW) 2026 di Menara Syariah, PIK 2, banyak sudut pandang baru yang sangat membuka pikiran. Salah satu momen berkesan buatku adalah menyimak paparan dari Pak Akhmad Akbar Susamto dari Universitas Gadjah Mada. Paparan beliau membongkar pemahaman umum yang selama ini mengendap di masyarakat tentang wakaf produktif. Miskonsepsi 3M: Masjid, Madrasah, dan Makam Selama ini, ketika berbicara tentang wakaf, pikiran sebagian besar dari kita refleks tertuju pada pola "3M": masjid, madrasah, dan makam. Ketiganya biasa dipandang sebagai aset yang "konsumtif" karena operasionalnya bergantung pada bantuan eksternal, macam donasi atau hibah. Di sisi lain, ada anggapan umum bahwa wakaf baru bisa berlabel "produktif" kalau aset itu diubah jadi unit bisnis, macam ruko, kebun, atau jasa lain yang hasilkan keuntungan finansial secara langsung. Namun apa benar ukurannya sesederhana itu? Bongkar Konsep: pisah...

Menggeser Cita-cita: Dari Ketokohan ke Kebermanfaatan

Sebuah tulisan dari peneliti aerospace Nepal, membawa sebuah cerita yang begitu membekas. Tulisan itu nggak panjang, tetapi cukup buat meruntuhkan cara pandang kita tentang apa yang selama ini kita anggap sebagai prioritas, tentang kelangsungan hidup, dan tentang gimana teknologi raksasa bekerja di luar jangkauan mata kita. ​Ia menulis yang secara terjemahan begini: ​"Hari itu adalah tanggal 25 April 2015, hari ketika gempa bumi bermagnitudo 7,8 mengguncang Nepal. Saya sedang meminta ayah saya untuk memeriksa pekerjaan rumah saya ketika rak-rak buku tiba-tiba bertumbangan. Sebuah vas yang jatuh mencederai tangan saudara perempuan saya. Selama berminggu-minggu, tak terhitung banyaknya warga Nepal, termasuk keluarga saya sendiri, tidur di tanah terbuka karena kami tidak lagi percaya dinding di sekeliling kami dan lantai di bawah kami. Langit terbuka yang luas adalah satu-satunya hal yang saya anggap aman. Berbaring di sana pada suatu malam, saya ingat merasakan sebuah pemikiran, ...

Ironi Manusia Modern: Merawat Dosa Sendiri, Mengutuk Dosa Orang Lain

Sebuah kutipan dari seorang guru pernah menampar kesadaranku: "Kita ini sama-sama pendosa; menyukai suatu dosa dan mengutuk orang lain karena melakukan dosa yang tidak kita senangi." ​Kutipan ini menelanjangi ego manusia. Kita sering kali ngerasa lebih suci hanya karena bentuk kesalahan kita beda dengan orang lain. Namun, kutipan ini nggak boleh berhenti jadi pembenaran buat memaklumi kesalahan. Harus ada tambahan yang esensial: sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat kepada Allah . Tanpa taubat dan perbaikan diri, kesadaran bahwa kita semua pendosa hanya akan lahirkan sikap apatis. ​Kalau kita tarik benang merahnya, filosofi tentang "merawat dosa yang disukai dan mengutuk yang tidak disukai" ini sangat relevan dengan berbagai ironi gaya hidup manusia modern saat ini. Ada dua bentuk "polusi" besar yang sering kali kita pelihara tanpa sadar: polusi fisik dan polusi jiwa. ​1. Ironi Polusi Udara: Asap Rokok vs. VOCs ​Kita sangat mudah mengenali dan meng...

Di Bawah Separuh Bulan Dzulqodah: Menemukan Kembali Kewarasan di Tengah Anarki Algoritma

Pukul dua belas lewat tengah malam di Surabaya. Angin bulan Mei berhembus hawa gerah khas kota pelabuhan. Namun di luar rumah, di bawah separuh bulan Dzulqodah yang menggantung bisu di langit, keheningan ini justru seperti suaka. Aku duduk di pinggiran warkop, menyeruput es teh yang perlahan kehilangan embun di dinding gelasnya. Tak ada bising layar, tak ada caci maki netizen, tak ada tangis balita. Hanya ada aku, malam, dan isi kepala yang mencoba susun ulang kewarasannya. Malam ini sebenarnya diawali dengan ironi yang. Skenario idealnya, malam Jumat ini aku terlarut dalam surah Al-Kahfi, atau seenggaknya, duduk merakit infografis membedah kriteria penerima zakat dan menyempurnakan ekosistem 'Da'i Mulia' buat rapat besok bersama Ketua Pembina. Tapi faktanya? Pertahananku runtuh. Satu setengah jam lebih, kesadaranku dibajak oleh sepotong kaca pipih di genggaman. Aku terhanyut dalam doomscrolling, menelan mentah-mentah lautan video pendek ketawa ketiwi, kisah penuh iba, atau...

Urgensi Sanad: Mencegah Tragedi Salah Identitas di Akhir Zaman

Di tengah hiruk-pikuk linimasa yang dijejali showcase arsitektur Kafka, baris kode Python, tips manajemen karier, hingga riuhnya drama viral talenta digital Mas Ibam bikin mengelus dada, izinkan saya membicarakan sebuah urgensi arsitektur informasi yang jauh lebih tua dan fundamental daripada database mana pun: pentingnya validasi data dalam merespons narasi akhir zaman. Bahasan eskatologi atau ilmu akhir zaman selalu jadi lahan basah bagi tumbuhnya narasi-narasi dramatis, teori konspirasi, sampai dalil-dalil palsu yang menjamur tanpa kontrol. Tanpa merujuk pada protokol keamanan data dari para ulama, yakni sanad yang shahih, kita sejatinya hanya sedang merekayasa ekspektasi peradaban berdasarkan angan-angan kosong, bukan berdasarkan kenyataan wahyu. Ada risiko sosiologis yang sangat ngeri ketika sebuah generasi buta di tengah gemerlapnya informasi. Kalau masyarakat modern hanya merumuskan figur pembebas seperti Imam Mahdi dari potongan video pendek viral atau narasi "katanya...

Mengulik Generasi "Copas" dengan Teknologi Sanad

Mari kita sepakati satu postulat dasar sebelum membedah benang kusut ini: Di dunia nyata, kita adalah saudara. Namun di dunia maya, kita adalah mangsa dari algoritma yang sengaja dirancang untuk polarisasi. ​Aku mulai menyadari efek samping dari teknologi ini sejak masa SMA, saat era media sosial makin mudah digenggam. Kehadiran smartphone dalam setahun ajaran sudah cukup merombak lanskap sosial sebuah angkatan. Lahirlah paradoks modern yang mengerikan:  mendekatkan yang jauh, sekaligus mengasingkan yang duduk sebelahan. Awalnya ini hanya soal selera. Algoritma media sosial mengurung kita dalam gelembung kenyamanan. Demi mengejar  engagement  dan durasi layar, platform menyuapi kita dengan apa yang ingin kita lihat. Yang suka  anime  dijejali  anime , yang suka drama Korea disuguhi drakor, yang suka kuliner tenggelam dalam video mukbang dan street food. Sampai titik ini, peradaban masih aman. Kita sadar bahwa selera tiap orang berbeda, dan perbedaan itu waj...