Mari kita sepakati satu postulat dasar sebelum membedah benang kusut ini: Di dunia nyata, kita adalah saudara. Namun di dunia maya, kita adalah mangsa dari algoritma yang sengaja dirancang untuk polarisasi.
Aku mulai menyadari efek samping dari teknologi ini sejak masa SMA, saat era media sosial makin mudah digenggam. Kehadiran smartphone dalam setahun ajaran sudah cukup merombak lanskap sosial sebuah angkatan. Lahirlah paradoks modern yang mengerikan: mendekatkan yang jauh, sekaligus mengasingkan yang duduk sebelahan.
Awalnya ini hanya soal selera. Algoritma media sosial mengurung kita dalam gelembung kenyamanan. Demi mengejar engagement dan durasi layar, platform menyuapi kita dengan apa yang ingin kita lihat. Yang suka anime dijejali anime, yang suka drama Korea disuguhi drakor, yang suka kuliner tenggelam dalam video mukbang dan street food. Sampai titik ini, peradaban masih aman. Kita sadar bahwa selera tiap orang berbeda, dan perbedaan itu wajar.
Namun bencana sesungguhnya dimulai ketika mesin algoritma ini dibajak oleh kepentingan politik dan ideologi.
Ketika urusan negara, kekuasaan, dan demokrasi masuk ke dalam mesin yang sama, narasinya berubah. Ini bukan lagi soal selera, melainkan klaim atas "kebenaran". Algoritma memaksa masyarakat untuk tanpa sadar meyakini bahwa pilihan politik/ideologinya adalah yang paling benar. Siapapun di luar gelembungnya adalah musuh yang salah. Media sosial perlahan bermutasi jadi arena gladiator.
Di tengah polarisasi yang meruncing itu, muncul anomali bernama buzzer. Entah itu perorangan, kelompok, atau bot, tugas mereka hanya satu: menangkan opini kelompoknya dan hancurkan karakter lawan.
Tragedi terburuknya adalah hilangnya akuntabilitas. Publik diserang dan digiring oleh opini-opini nakal bahkan black campaign dari akun-akun anonim dan fake account. Karena mereka berlindung di balik topeng tanpa nama, mereka merasa bebas menyebar fitnah, hoaks, dan caci maki tanpa takut tersentuh hukum. Ironisnya, masyarakat kita menelan mentah-mentah opini tak bertuan tersebut.
Kita telah berevolusi jadi generasi "Copas Grup Sebelah". Kita kehilangan nalar kritis dan menjelma jadi mata rantai penyebar kebohongan. Sambil rebahan dan setengah ngantuk, kita terima pesan di WhatsApp bertuliskan: "Awas, konspirasi elit global!" atau "Kabar buruk dari istana, viralkan sebelum dihapus!" Tanpa berpikir dua detik, tanpa repot-repot tabayyun, jempol kita melesat memencet tombol forward ke lima grup keluarga. Jempol kita bergerak jauh lebih cepat daripada otak kita. Tanpa sadar, kita menabung dosa jariyah digital.
Lalu, apa Islam mengajarkan kita untuk keluar dari anarki informasi ini? Jawabannya ada pada teknologi peradaban berusia belasan abad.
Filter Paling Sadis dalam Sejarah Manusia
Jauh sebelum Silicon Valley merancang fitur "Fact Check", peradaban Islam sudah membangun sistem "Anti-Hoaks" paling canggih dan ketat di dunia. Sistem itu bernama Sanad (rantai periwayatan).
Seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak, pernah melontarkan sebuah peringatan abadi: "Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena Sanad, niscaya siapa saja bisa bicara apa saja semaunya." Pernyataan ini adalah tamparan keras bagi era media sosial kita hari ini, karena orang-orang tak berilmu dan akun-akun anonim bisa bicara apa aja semaunya, lalu dianggap sebagai kebenaran hanya karena viral.
Dalam tradisi intelektual Islam, sebuah berita terkait Nabi (hadits) nggak akan pernah diterima jadi ilmu kecuali lolos dari interogasi berlapis: Siapa yang bicara? Dari mana dia dengar? Apakah dia pernah bertemu dengan sumbernya? Apakah dia jujur? Bagaimana rekam jejak moralnya? Apakah ingatannya sekuat baja?
Untuk mengeksekusi ini, para ulama menciptakan ilmu jarh wa ta'dil (kritik perawi). Ini adalah filter rekam jejak paling sadis yang pernah diciptakan manusia. Skalanya mencengangkan: mereka meneliti jutaan profil manusia, mengaudit kehidupan pribadi mereka, murni hanya untuk memastika satu kalimat dari Nabi ﷺ sampai kepada kita tanpa cacat sedikit pun. Standar verifikasinya jauh lebih ketat dari seleksi masuk agen rahasia mana pun.
Kalau ada satu perawi aja ketahuan pernah bohong (sekalipun sekali dan urusan sepele), maka seluruh riwayat hidupnya di-blacklist dan haditsnya ditolak seumur hidup! Ada perawi yang ibadahnya luar biasa shalih, tapi terbukti hafalannya sering terbalik? Ditolak. Ada perawi yang sangat jenius, tapi terang-terangan menganut aliran yang menyimpang? Ditolak.
Lihatlah dedikasi Imam Bukhari. Beliau rela menempuh perjalanan melintasi ribuan kilometer gurun pasir, mengorbankan harta dan fisiknya, hanya untuk verifikasi satu buah hadits. Kalau setibanya di sana beliau lihat perawi tersebut membuat satu tindakan yang merusak muruah (kehormatan) atau terlihat tidak amanah, beliau segera putar balik kudanya dan pulang tanpa menorehkan satu tinta pun.
Itulah harga sebuah integritas bagi para raksasa peradaban. Lalu, mari kita lihat pantulan wajah kita hari ini di layar smartphone.
Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam mengunyah informasi konspirasi yang sanadnya terputus, berdebat opini buzzer anonim yang nggak jelas asal-usulnya, dan mengotori hati kita dengan kecemasan yang direkayasa oleh algoritma. Sampah informasi kita telan bulat-bulat, sementara warisan emas berupa teks suci dan sabda Nabi ﷺ yang pasti benar dan menyelamatkan justru dibiarkan berdebu di rak buku.
Berhentilah jadi agen penyebar hoaks tak dibayar. Matikan layar sejenak, setop scrolling linimasa yang nggak jelas juntrungannya, dan kembalikan kewarasan akal kita.
Di era kebohongan bisa diproduksi massal dalam hitungan detik, menuntut Sanad (kejelasan sumber dan akuntabilitas) atas setiap informasi yang kita konsumsi bukan lagi anjuran agama. Ia adalah benteng terakhir kewarasan dan kehormatan peradaban kita.