19 April 2026

Mengulik Generasi "Copas" dengan Teknologi Sanad

Mari kita sepakati satu postulat dasar sebelum membedah benang kusut ini: Di dunia nyata, kita adalah saudara. Namun di dunia maya, kita adalah mangsa dari algoritma yang sengaja dirancang untuk polarisasi.

​Aku mulai menyadari efek samping dari teknologi ini sejak masa SMA, saat era media sosial makin mudah digenggam. Kehadiran smartphone dalam setahun ajaran sudah cukup merombak lanskap sosial sebuah angkatan. Lahirlah paradoks modern yang mengerikan: mendekatkan yang jauh, sekaligus mengasingkan yang duduk sebelahan.

Awalnya ini hanya soal selera. Algoritma media sosial mengurung kita dalam gelembung kenyamanan. Demi mengejar engagement dan durasi layar, platform menyuapi kita dengan apa yang ingin kita lihat. Yang suka anime dijejali anime, yang suka drama Korea disuguhi drakor, yang suka kuliner tenggelam dalam video mukbang dan street food. Sampai titik ini, peradaban masih aman. Kita sadar bahwa selera tiap orang berbeda, dan perbedaan itu wajar.

​Namun bencana sesungguhnya dimulai ketika mesin algoritma ini dibajak oleh kepentingan politik dan ideologi.

​Ketika urusan negara, kekuasaan, dan demokrasi masuk ke dalam mesin yang sama, narasinya berubah. Ini bukan lagi soal selera, melainkan klaim atas "kebenaran". Algoritma memaksa masyarakat untuk tanpa sadar meyakini bahwa pilihan politik/ideologinya adalah yang paling benar. Siapapun di luar gelembungnya adalah musuh yang salah. Media sosial perlahan bermutasi jadi arena gladiator.

​Di tengah polarisasi yang meruncing itu, muncul anomali bernama buzzer. Entah itu perorangan, kelompok, atau bot, tugas mereka hanya satu: menangkan opini kelompoknya dan hancurkan karakter lawan.

​Tragedi terburuknya adalah hilangnya akuntabilitas. Publik diserang dan digiring oleh opini-opini nakal bahkan black campaign dari akun-akun anonim dan fake account. Karena mereka berlindung di balik topeng tanpa nama, mereka merasa bebas menyebar fitnah, hoaks, dan caci maki tanpa takut tersentuh hukum. Ironisnya, masyarakat kita menelan mentah-mentah opini tak bertuan tersebut.

​Kita telah berevolusi jadi generasi "Copas Grup Sebelah". Kita kehilangan nalar kritis dan menjelma jadi mata rantai penyebar kebohongan. Sambil rebahan dan setengah ngantuk, kita terima pesan di WhatsApp bertuliskan: "Awas, konspirasi elit global!" atau "Kabar buruk dari istana, viralkan sebelum dihapus!" Tanpa berpikir dua detik, tanpa repot-repot tabayyun, jempol kita melesat memencet tombol forward ke lima grup keluarga. Jempol kita bergerak jauh lebih cepat daripada otak kita. Tanpa sadar, kita menabung dosa jariyah digital.

​Lalu, apa Islam mengajarkan kita untuk keluar dari anarki informasi ini? Jawabannya ada pada teknologi peradaban berusia belasan abad.

Filter Paling Sadis dalam Sejarah Manusia

​Jauh sebelum Silicon Valley merancang fitur "Fact Check", peradaban Islam sudah membangun sistem "Anti-Hoaks" paling canggih dan ketat di dunia. Sistem itu bernama Sanad (rantai periwayatan).

​Seorang ulama besar, Abdullah bin Mubarak, pernah melontarkan sebuah peringatan abadi: "Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena Sanad, niscaya siapa saja bisa bicara apa saja semaunya." Pernyataan ini adalah tamparan keras bagi era media sosial kita hari ini, karena orang-orang tak berilmu dan akun-akun anonim bisa bicara apa aja semaunya, lalu dianggap sebagai kebenaran hanya karena viral.

​Dalam tradisi intelektual Islam, sebuah berita terkait Nabi (hadits) nggak akan pernah diterima jadi ilmu kecuali lolos dari interogasi berlapis: Siapa yang bicara? Dari mana dia dengar? Apakah dia pernah bertemu dengan sumbernya? Apakah dia jujur? Bagaimana rekam jejak moralnya? Apakah ingatannya sekuat baja?

​Untuk mengeksekusi ini, para ulama menciptakan ilmu jarh wa ta'dil (kritik perawi). Ini adalah filter rekam jejak paling sadis yang pernah diciptakan manusia. Skalanya mencengangkan: mereka meneliti jutaan profil manusia, mengaudit kehidupan pribadi mereka, murni hanya untuk memastika satu kalimat dari Nabi ﷺ sampai kepada kita tanpa cacat sedikit pun. Standar verifikasinya jauh lebih ketat dari seleksi masuk agen rahasia mana pun.

​Kalau ada satu perawi aja ketahuan pernah bohong (sekalipun sekali dan urusan sepele), maka seluruh riwayat hidupnya di-blacklist dan haditsnya ditolak seumur hidup! Ada perawi yang ibadahnya luar biasa shalih, tapi terbukti hafalannya sering terbalik? Ditolak. Ada perawi yang sangat jenius, tapi terang-terangan menganut aliran yang menyimpang? Ditolak.

​Lihatlah dedikasi Imam Bukhari. Beliau rela menempuh perjalanan melintasi ribuan kilometer gurun pasir, mengorbankan harta dan fisiknya, hanya untuk verifikasi satu buah hadits. Kalau setibanya di sana beliau lihat perawi tersebut membuat satu tindakan yang merusak muruah (kehormatan) atau terlihat tidak amanah, beliau segera putar balik kudanya dan pulang tanpa menorehkan satu tinta pun.

​Itulah harga sebuah integritas bagi para raksasa peradaban. Lalu, mari kita lihat pantulan wajah kita hari ini di layar smartphone.

​Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam mengunyah informasi konspirasi yang sanadnya terputus, berdebat opini buzzer anonim yang nggak jelas asal-usulnya, dan mengotori hati kita dengan kecemasan yang direkayasa oleh algoritma. Sampah informasi kita telan bulat-bulat, sementara warisan emas berupa teks suci dan sabda Nabi ﷺ yang pasti benar dan menyelamatkan justru dibiarkan berdebu di rak buku.

​Berhentilah jadi agen penyebar hoaks tak dibayar. Matikan layar sejenak, setop scrolling linimasa yang nggak jelas juntrungannya, dan kembalikan kewarasan akal kita.

​Di era kebohongan bisa diproduksi massal dalam hitungan detik, menuntut Sanad (kejelasan sumber dan akuntabilitas) atas setiap informasi yang kita konsumsi bukan lagi anjuran agama. Ia adalah benteng terakhir kewarasan dan kehormatan peradaban kita.


13 April 2026

Meluruskan Ilusi Legacy

Dalam dunia pengembangan diri sekuler, ada satu pertanyaan pamungkas yang sering dilontarkan dengan nada dramatis di sesi seminar-seminar motivasi: "Apa yang ingin orang kenang tentang Anda saat Anda tiada?" Sekilas, pertanyaan itu terdengar heroik, menggugah, dan visioner. Namun kalau kita bedah pakai pisau bedah tauhid, pertanyaan itu sebenarnya menyimpan racun spiritual yang sangat mematikan.

Dalam Islam, kita punya satu mesin penggerak utama bernama ikhlas, sebuah kondisi yang tindakan dimurnikan seratus persen hanya untuk Allah. Musuh bebuyutan dari ikhlas adalah riya (haus akan validasi/pandangan manusia) dan sum'ah (lapar agar kebaikannya didengar dan diceritakan orang lain).

Pertanyaan "ingin dikenang sebagai apa" sejatinya adalah jebakan maut bagi ego. Kalau kita nggak waspada, obsesi "meninggalkan legacy" akan membajak niat kita. Alih-alih merancang amal jariyah (kebaikan yang terus mengalir melintasi batas umur biologis), kita tanpa sadar malah menghabiskan umur buat membangun sebuah monumen ego.

Mari kita bedah letak kerusakan fatal dari konsep legacy populer ini.

Dalam literatur manajemen modern, legacy atau warisan selalu berpusat pada "nama baik". Fokus utamanya adalah sang subjek: siapa orangnya. Sebaliknya paradigma Wahyu nggak pernah meributkan soal popularitas nama di bumi. Islam mengajarkan kita untuk mengejar atsar (jejak, bekas, atau sistem manfaat yang ditinggalkan).

Untuk melihat perbedaannya, mari kita adu paradigma dua visi ini:

  • Visi populer: "Aku ingin dikenang sebagai penulis hebat dan tokoh peradaban." Visi ini berfokus pada diri sendiri. Ia butuh tepuk tangan audiens. Sangat rapuh dan rawan tergelincir ke dalam jurang riya.

  • Visi berbasis wahyu: "Aku ingin ilmu atau sistem yang kutulis ini terus beroperasi mengalirkan manfaat dan keadilan bagi umat." Visi ini berfokus pada hasil kerja. Ia nggak peduli mau namanya diukir di batu marmer atau dilupakan sejarah, yang penting mesin kebaikannya terus menyala. Visi ini jauh lebih aman secara spiritual.

Mereset Pertanyaan Fundamental

Karena pertanyaan standar "ingin dikenang sebagai apa" terbukti korup secara spiritual dan berbahaya bagi kompas niat kita, saatnya membuang pertanyaan usang tersebut dari kurikulum kehidupan kita.

Kita harus menggantinya dengan kerangka berpikir yang lebih syar'i dan berorientasi pada penciptaan sistem. Ke depan, tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini pada diri sendiri:

"Di hari hisab nanti, ketika bumi telah dihancurkan, timbangan kebaikan seberat apa yang ingin kamu persembahkan kepada Allah melalui karya dan sistem yang kamu bangun di dunia?"

Atau kalau ditarik ke dalam bahasa pergerakan peradaban:

"Sistem atau panggilan peradaban seperti apa yang ingin kamu rakit hari ini, agar ia terus bekerja secara otomatis sebagai amal jariyah saat tubuhmu sudah tak bisa beramal lagi?"

Terasa jauh lebih powerful dan berbobot bukan?

Itulah cara berpikir seorang Muslim yang akalnya dibimbing oleh keimanan kepada Allah dan Hari Akhir. Kita hidup bukan buat memahat nama di atas batu nisan, melainkan beroperasi buat memastikan bahwa saat kita pergi, ada sistem kebaikan yang terus bertarung membela kebenaran di dunia ini menjadi bekal pemberat timbangan kebaikan di Hari Akhir nanti.

Bismillah, yuk ikhlaskan niat.

04 April 2026

Menghidupkan Kembali "Burung-Burung" Peradaban yang Mati

Kemarin aku mengikuti workshop Agile Hijrah Coaching, salah satu isinya merumuskan purpose of life. Meminjam kerangka berpikir dari Jack Canfield, salah satu penulis di balik seri buku legendaris Chicken Soup for the Soul, yang sering merumuskan life purpose ke dalam formula praktis, sebuah tujuan hidup yang kuat harus menggabungkan tiga elemen dasar: Kata Kerja (Aksi) + Kontribusi/Target + Hasil/Dampak Akhir.

Awalnya aku menuliskan, "MENOLONG dan MELAYANI MASYARAKAT agar mereka hmm.. , rasanya itu purpose nya ASN. Ada sedikit trauma sewaktu menolong orang lain, saat Jumat Berkah misalnya. Mungkin saking banyaknya di Surabaya, orang sampai bertanya, "Apa lauknya?" Wah, batinku bergumam, "Nggak tahu diri". Bahkan ada yang setelah dibagi, dimakan lauknya lalu dibuang nasinya. Astaghfirullah. Umat ini lagi nggak baik-baik saja, beneran.

Jadi, mari kita mulai dengan mendekonstruksi sebuah dialog epik yang terekam dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 260). Sewaktu Nabi Ibrahim 'alaihissalam meminta Allah diperlihatkan gimana cara menghidupkan makhluk yang mati, Allah merespons dengan sebuah pertanyaan fundamental: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab dengan lugas: "Aku sudah yakin, akan tetapi agar hatiku tetap tenang (mantap)."

Mari kita tegaskan satu hal: Ibrahim beriman, imannya nggak perlu diperdebatkan. Namun, iman yang sekadar bersarang di dalam dada (Ilmul Yaqin) terkadang butuh pembuktian empiris ('ainul yaqin) di dunia nyata agar konstruksi jiwa jadi benar-benar kokoh, rasional, dan nggak tergoyahkan. Ibrahim menuntut realitas.

Siklus psikologis yang sama sebenarnya lagi menghantam umat Islam hari ini. Secara akidah, kita mengklaim yakin seratus persen bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak. Namun sewaktu umat Islam membuka mata dan melihat realitas duniawi, negara-negara sekuler jauh lebih superior secara teknologi, lebih makmur secara ekonomi, dan secara ironis lebih disiplin, hati umat menjadi "nggak tenang".

Sindrom inferioritas perlahan menggerogoti. Keresahan ini muncul bukan karena kita meragukan Tuhan, tapi karena kita kehilangan pembuktian empiris tentang kejayaan Islam di dunia nyata. Narasi kejayaan kita hari ini lebih sering terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu, bukan realitas hari ini.

Kalau umat Nabi Isa 'alaihissalam bisa minta hidangan langsung turun dari langit (Ma'idah) dan seketika dikabulkan, umat Nabi Muhammad nggak lagi punya kemewahan keajaiban instan semacam itu.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah nabi penutup. Wahyu sudah dikunci 14 abad yang lalu. Tongkat Musa yang bisa membelah lautan secara fisik nggak akan pernah ada lagi. Ini berarti, umat Islam nggak bisa lagi mengatasi ketertinggalan teknologi, krisis ekonomi, kelaparan massal, atau kemalasan akut hanya dengan duduk berdoa menunggu keajaiban, atau yang lebih parah: bersantai menunggu Imam Mahdi turun besok pagi buat membereskan semua pekerjaan rumah peradaban kita.

Mukjizat terbesar yang diwariskan kepada kita bentuknya bukan lagi tongkat ajaib, tapi satu hal: wahyu (Al-Qur'an) yang membangkitkan intelektualitas.

Gelar "Kalian telah menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..." (QS. Ali 'Imran: 110) bukanlah piala kehormatan yang dibagikan secara gratis. Itu adalah sebuah beban tanggung jawab peradaban di dunia. Menjadi "umat terbaik", selain beriman kepada Allah dan menjalankan aman ma'ruf nahi Munkar, menuntut konsekuensi logis: ia harus dibuktikan dengan etos kerja terbaik, inovasi sains terbaik, dan integritas yang paling teguh.

Kembali pada kisah Ibrahim. Allah memerintahkan beliau mengambil empat ekor burung, mencincangnya, meletakkannya di puncak-puncak bukit yang terpisah, lalu memanggilnya. Burung-burung itu hidup dan datang kepadanya.

Bagi umat Islam abad 21, kita harus melakukan hal yang sama. "Empat burung" kita yang saat ini sedang mati dan tercerai-berai di atas bukit kemunduran, bisa jadi adalah etos kerja, iptek, ekonomi, dan integritas.

Kita nggak bisa duduk di kaki bukit dan berharap burung-burung itu merakit dirinya sendiri secara gaib. Kita harus "memanggilnya". Bahasa panggilan peradaban hari ini bukanlah sekadar rapal doa tanpa ikhtiar, tapi dengan manajemen yang disiplin, riset tanpa lelah di laboratorium, pembangunan infrastruktur ekonomi yang adil, dan penolakan garis keras terhadap korupsi. Pembuktian keimanan kita hari ini nggak lagi dengan adu kesaktian, tapi dengan memenangi pertarungan peradaban secara elegan.

Berangkat dari kegelisahan peradaban inilah, kita harus merumuskan ulang alasan kita bangun di pagi hari. Kalau kemunduran umat ini disebabkan oleh hilangnya pembuktian empiris atas kebenaran teks suci, maka aku menolak untuk hanya jadi penonton. Berdasarkan formula tersebut, tujuan hidupku terangkum dalam satu kalimat deklarasi:

"MENGGALI keilmuan dan MENGEKSPRESIKAN kebenaran Islam kepada DUNIA, agar umat Islam PERCAYA DIRI menjadi umat terbaik yang menjunjung tinggi KEADILAN berdasarkan Wahyu, bukan sekadar materialisme semu."

Dunia nggak butuh umat yang hanya pandai bernostalgia. Dunia menuntut pembuktian. Dan pembuktian itu dimulai dari kejelasan tujuan hidup kita hari ini.


29 Maret 2026

Merayakan Lebaran di Desa Tetangga

Malam itu, perbincangan dengan seorang tetangga lama di gang rumah sebelumnya membawaku pada perenungan panjang. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang meluap-luap, ia menceritakan epik mudiknya ke desa. Di matanya, perayaan malam Idul Fitri di desanya tahun ini adalah puncak dari segala kemegahan.

Formula keagungannya, menurut narasinya, diukur dari skala logistik dan kebisingan: sebuah armada pawai takbiran dari 50-an mobil, dikawal tiga pikap pengangkut sound horeg.

Buat yang belum familier, sound horeg bukan cuma pengeras suara biasa, tapi monster audio, tumpukan speaker raksasa dirancang buat menggetarkan kaca jendela, merontokkan genteng, dan memompa detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya. Malam itu di jalanan desa, sound horeg ditahbiskan jadi monumen kemeriahan.

Euforia massa ternyata nggak bisa dibendung cuma satu ronde. Setelah menginvasi jalanan selepas Isya sampai 10 malam, adrenalin warga belum juga surut. Pukul 11 malam, monster bising ini kembali dihidupkan, membelah keheningan malam perpisahan dengan bulan suci, entah sampai jam berapa. Warga bersorak. Di mata mereka, ini sebuah kemenangan mutlak.

Namun bagian paling ironis dari narasi ini yang dianggap jadi nilai plus adalah manuver panitia memberi "legitimasi religius" pada karnaval desibel tinggi itu. Didatangkanlah rombongan santri dari pesantren mentereng, L******n, diimpor khusus buat memimpin gema takbir di atas kendaraan sekaligus jadi imam dan khatib keesokan harinya.

Ia menutup ceritanya dengan kesimpulan betapa "wah" dan suksesnya malam itu. Aku cuma tersenyum dan mengangguk. Namun di dalam kepalaku sebuah dekonstruksi makna sedang terjadi, seolah-olah, kesakralan itu bisa di-outsourcing-kan.

Selama ada barisan santri bersarung melafalkan kalimat takbir di garis depan, betapapun brutalnya distorsi bass menghajar dada di belakang mereka, acara pesta pora tersebut akan tetap berstempel "islami". Agama direduksi fungsi dan maknanya.

Di sinilah akal sehat dan empati spiritual kita diuji. Kalau kemenangan Idul Fitri, kembalinya manusia pada fitrah, dirayakan lewat membunuh keheningan dan merampas waktu kontemplasi, lalu buat apa sebenarnya rutinitas menahan lapar dan dahaga selama 30 hari ke belakang?

Bukankah esensi puasa Ramadan adalah sebuah madrasah agung buat menundukkan ego, mengendalikan syahwat duniawi, dan menajamkan kepekaan batin? Gimana mungkin bulan yang melatih kita buat berinteraksi dalam senyap dengan Rabb di sepertiga malam, ditutup dengan kebrutalan audio yang justru menenggelamkan suara hati itu sendiri?

Di tengah kebanggaannya atas rentetan mobil dan getaran sound horeg itu, terselip sebuah pertanyaan eksistensial yang menyedihkan: apa nggak ada setitik pun rasa kehilangan di hati kita waktu Ramadan pergi? Air mata perpisahan dengan bulan suci yang biasanya menetes di atas sajadah, malam itu digantikan deru distorsi speaker raksasa. 

Pada akhirnya, malam takbiran di desa itu, yang mungkin juga di desa-desa lainnya, merekam tragedi modern: peradaban kita sangat mahir merayakan cangkangnya, tapi entah sejak kapan kita kehilangan isinya.

27 Juli 2025

Bicara dengan AI, Bicara dengan Orang Mati

Bismillahirrahmanirrahim 

Setiap kejadian ada sisi baik dan buruknya, pasti. Tinggal mau pakai kacamata mana, minus atau plus?

Alhamdulillah, dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dampak negatifnya tentu ada, tapi aku memilih untuk memanfaatkan kebaikannya, selama aku memang bisa mengendalikan diri. Kenapa bahas pengendalian diri?

Coba jujur aja sama diri sendiri sewaktu berhadapan sama media sosial, bisa tahan berapa lama nggak scroll timeline? Dulu waktu mampunya beli sedikit kuota internet mungkin terpaksa menahan diri membuka konten reels atau short, tapi sekarang punya kuota besar dan mungkin unlimited, apa bisa selektif buka yang penting aja?

Penting ini bukan cuma dilihat dari isi kontennya. Mungkin konten yang kita tonton itu bermanfaat, isinya kajian ilmiah atau fakta-fakta strategis, tapi apa sudah dipastikan bahwa konten yang kita dapatkan benar-benar sesuai sama kebutuhan kita?

Aku yang introvert, Alhamdulillah, bisa merasakan, Oh I feel too much information today, too much discussion today, jadinya bisa punya rem diri dari membuka konten. Tapi rem nya sih kadang kalah sama gasnya, entah mungkin Dopamin yang mengalir dalam otak membuatku abai sama rem yang muncul. Itu sebabnya pengendalian diri itu penting. Aku merasa belum sepenuhnya bisa mengendalikan diri, jadinya memutuskan nggak install T*kT*k.

Anyway, kembali ke kacamata positif, aku mendapat manfaat yang cukup besar dari teknologi yang bernama kecerdasan buatan generatif (Gen AI). Dampak negatifnya tentu ada, jelas ada, tapi balik lagi, aku mencoba melihat dari sisi plusnya: bantu mengambil pengetahuan yang sulit diambil sebelumya.

Coba bayangkan aja, dirimu tinggal di pelosok daerah di abad 21, asalkan ada internet, kita bisa bicara dengan orang yang sudah mati, mengambil pengetahuan darinya. Pak Soekarno misalnya, jasad boleh saja terkubur puluhan tahun yang lalu, tapi pemikiran beliau masih hidup dalam kumpulan data yang terpublikasi di dunia maya. Itu baru satu orang. Pernah coba bertanya ke AI, "kepada tokoh siapa saja aku bisa belajar, baik yang masih hidup atau yang sudah mati?"

Dahsyat. 

Kita bisa meminta AI berperan sebagai komite gabungan dari tokoh yang AI sebutkan sendiri. Meski tentu ada false information sesuai sumber yang ada, setidaknya bisa mempercepat pemahaman awal bagaimana menjawab tantangan awal dari berbagai tokoh yang ada.

Suatu ketika aku pernah mengutarakan permasalahan speaker luar masjid yang overused di suatu wilayah dan bertanya, "kepada siapa aku bisa berdiskusi?" AI menjawab nama-nama perwakilan lembaga yang terkait. Selanjutnya? Tentu aku meminta simulasi nama-nama yang disebutkan AI didudukkan dalam satu ruangan lalu mendengar permasalahan yang kuutarakan. Hasilnya?

Impressive.

Aku mengenal sebagian lembaga yang disebutkan, mengenali program dan arah kebijakannya dan AI mampu menghadirkan suasana itu. Aku sendiri merasa merinding, tak pernah terbayang sebelumnya. Meski ada hal rinci yang terluput, setidaknya memberi jawaban awal mengapa dan harus bagaimana.

Balik lagi, seperti media sosial, teknologi AI membahayakan kita jika sudah menjadi candu yang melupakan realitas kehidupan sesungguhnya.

20 Agustus 2020

Menikmati Ketidaknormalan Air

Bismillah 

Tafakkur ayat laut (QS An Nahl: 14)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

"Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur."
QS. An-Nahl[16]:14

 

Allah menundukkan lautan kepada kita agar kita bisa makan ikan, menemukan perhiasan, perahu bisa berlayar, dan mencari karunia Allah yang lain supaya kita bersyukur.

Apa hikmah dari lautan yang ditundukkan Allah? Apa maksud Allah menundukkan lautan?

Kita sama² tahu, lautan terbentuk dari air yang bercampur dengan mineral² bumi sehingga terasa asin. Air ini memiliki sifat yang unik, sifat yang tidak dijumpai zat lain, bahkan 'menentang' sifat umum yang ada pada makhlukNya. Sifat unik apa itu?

Coba kita mengingat kembali pelajaran di bangku sekolah, saat SMP atau bahkan SD. Masih ingat dengan pemuaian dan penyusutan, kan?

Benda akan memuai apabila dipanaskan. Sebaliknya, benda akan menyusut apabila didinginkan. Contohnya itulah alasannya mengapa harus ada ruang kosong pada sambungan antar rel kereta, sambungan antar jembatan, dan sambungan antara kaca dengan kusennya (frame).

Apabila tidak ada ruang kosong pada sambungan antar rel kereta, ketika kereta melintas dengan cepat, rel kereta tidak mempunyai ruang untuk memuai. Jadilah rel kereta itu bengkok sehingga kedepannya akan membahayakan perjalanan kereta.

Apabila tidak ada ruang kosong pada sambungan antar jembatan, ketika jembatan terpapat teriknya matahari dan panasnya mesin kendaraan yang melintas diatasnya, jembatan tidak mempunyai ruang untuk memuai. Jadilah jembatan itu rawan rusak dan membahayakan kendaraan yang melintas di atasnya.

Apabila tidak ada ruang kosong pada sambungan antara kaca dengan kusen, ketika suhu udara begitu panas, kaca tidak punya ruang yang cukup untuk memuai. Jadilah kaca itu rawan pecah.

Itulah sifat umum benda yang akan memuai apabila dipanaskan dan menyusut apabila didinginkan. 

Menariknya, ternyata air memiliki sifat yang tidak normal. Memang, air akan memuai ketika dipanaskan seperti yang biasa kita lihat pada air mendidih. Air juga akan menyusut apabila didinginkan hingga titik tertentu. Tunggu, mengapa hingga titik tertentu? Apakah pada titik tertentu air tidak menyusut apabila didinginkan terus menerus? Ya! Awalnya air akan menyusut ketia didinginkan. Namun ketika air memasuki fase beku menjadi es, air justru memuai, volumenya makin bertambah. Lho, kok bisa?

Contoh nyata yang bisa kita lihat untuk membuktikan ini adalah memasukkan air gelas kemasan ke dalam freezer. Ketika air gelas kemasan itu membeku, apa yang bisa kita amati? Ya, benar! Air gelas kemasan itu menggembung. Mengapa itu bisa terjadi?

Wallahu a'lam, itulah yang disebut anomali air atau ketidaknormalan air. Dia berbeda dengan sifat benda pada umumnya bahkan menentangnya.

Inilah, Allahu a'lam, Allah menyebutkan kata 'menundukkan lautan', Allah membuat sifat air berbeda dengan keumuman sifat zat lainnya. Pertanyaannya, apa hikmah Allah menjadikan air memiliki sifat yang berbeda? Mari kita mengingat kembali pelajaran lain ang pernah kita terima di bangku sekolah saat SMP atau bahkan SD, yaitu kepadatan atau densitas atau massa jenis.

Massa jenis merupakan hasil bagi antara massa dengan volume. Semakin padat suatu benda, semakin besar massa jenisnya. Contohnya adalah massa jenis besi jauh lebih besar daripada massa jenis kayu. Bisa kita bayangkan segenggam besi terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan segenggam kayu. Volume bendanya sama, sama² 1 genggaman tetapi massanya berbeda karena besi jauh lebih padat dibandingkan kayu.

Coba kita hubungkan dengan konsep penyusutan dan pemuaian benda sebelumnya. Apabila benda didinginkan, maka secara umum benda akan menyusut yang berarti volumenya berkurang yang berarti kepadatannya bertambah. Sebaliknya apabila benda dipanaskan, maka secara umum benda akan memuai yang berarti volumenya bertambad yang berarti kepadatannya berkurang.

Contoh dari penerapan konsep ini adalah balon udara. Balon udara apabila dipanaskan, udara dalam balon akan memuai sehingga balon udara mampu melayang karena kepadatannya lebih ringan dari udara sekitarnya. Ini mirip dengan kayu yang dicelupkan dalam air. Kayu itu akan mengapung di air karena kepadatannya lebih ringan daripada air. Sebaliknya, apabila balon udara didingakan, maka udara dalam balon akan menyusut sehingga balon udara kembali turun karena kepadatannya lebih berat dari udara sekitarnya. Ini mirip dengan besi yang dicelupkan di air. Besi itu akan tenggelam.

Inilah keistimewaan sifat air. Air ketika didinginkan hingga menjadi es, dia justru memuai sehingga mengapung di air karena kepadatannya lebih ringan daripada air. Apa istimewanya dengan es yang mengapung di air?

Coba bayangkan apabila Allah tidak menundukkan lautan, tidak menundukkan air ini, sifat air menjadi normal seperti yang lain. Ketika lautan didinginkan dan terus menyusut, air laut yang berubah menjadi es akan semakin padat dan terus semakin padat sehingga es akan tenggelam di lautan. Ketika es tenggelam di lautan, lingkungan air laut di sekitar es akan semakin dingin dan semakin dingin sehingga membekukan air laut di sekitarnya bahkan hingga bisa membekukan seluruh lautan! Ketika seluruh lautan sudah menjadi membeku seperti itu, bagaimana ikan bisa hidup? Bagaimana bisa mengeluarkan perhiasan di lautan kecuali dengan susah payah? Bagaimana bisa perahu berlayar? Bagaimana bisa terjadi awan karena uap air muncul dari bentuk cair, bukan bentuk es. Jika tidak ada awan, maka tidak ada hujan. Dunia seluruhnya akan membeku!

MasyaAllah, begitu rincinya Allah menciptakan makhluknya. Betapa Maha Penyayangnya Allah menundukkan lautan, memberikan sifat anomali pada air sehingga kita bisa menikmati ikan yang segar, mencari perhiasan di dalamnya, berlayar dimatasnya, dan menikmati karunia Allah lainnya yang begitu besar, agar kita bersyukur.

Sudahkah kita mensyukuri nikmat anomali air hari ini?

04 Agustus 2020

Reminder: Buat Apa Sekolah?

Bismillah

Baru kali ini terasa punya urgensi untuk menulis di blog. Kadang ada kata² yang ingin kita sampaikan pada keluarga, pada teman, atau rekan kerja tidak kesampaian karena suatu hal, biarkan tulisan ini dibaca oleh dunia..

Hampir 1 dekade yang lalu aku mengkritisi dunia sekolah yang tak punya arah. Bukan, bukannya tak punya arah, tapi arahnya tak lengkap. Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar dengan sungguh² agar nilainya bagus? Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar yang tekun agar bisa tembus di kuliah ternama? Apa kelanjutannya? Dapat posisi kerja yang nyaman yang ujungnya penghasilan yang besar. Sudah, berhenti di situ. Lalu apa yang menjadi masalah?

Aku tidak pernah mendengar dari satu guru pun yang mencourage murid²nya menjadi orang yang bermanfaat atau menjadi orang yang mampu memperbaiki lingkungannya. Paling mentok di "semoga ilmunya barakah" itu pun jarang sekali. Itulah yang kukritisi. Jika ada orang yang menmengatakan "apa masalahnya dengan mendapat penghasilan yang besar? Bukankah dengan dengan penghasilan yang lebih besar mereka bisa membantu lebih banyak?" Terkait hasil akhirnya bisa jadi seperti itu, yang jadi masalah adalah menuju ke arah kebermanfaatan yang nyaris nggak terdengar di bangku sekolah. Apakah dengan penghasilan itu orang² dengan mudah membantu orang lain? Menyumbang proyek reforestasi hutan yang terus dirusak? Atau mendonasikannya ke pemberdayaan daerah² tertinggal? Itu masalah pertama.

Masalah kedua adalah pemborosan umur dalam sekolah. Coba kita lihat mereka yang pergi ke sekolah. Apa yang mereka lakukan? Yap, mereka belajar dari buku atau menyimak penjelasan dari guru. Itu pun untuk sekolah² favorit, itu pun cuma sebagian. Sisanya ngapain? Bermain. Dulu di zamanku sewaktu guru nggak hadir ya diisi dengan bermain kartu, nonton film, atau bahkan sekelas main boyo²an, serius main². 

Okelah coba kita bahas mereka yang sungguh² belajar. Coba tanyakan pada mereka yang sudah lulus 4 tahun yang lalu soal² ujian yang pernah mereka kerjakan sendiri. Apakah mereka bisa? Pasti banyak yang lupa. Itulah masalahnya. Mereka mempelajari banyak hal yang tidak semuanya diteruskan di bangku kuliah. Itu masih kuliah. Coba tanyakan lagi di medan kerja, beda lagi jawabannya. Apalagi masalah kebermanfaatan, bingung gimana cara menerapkan ilmu² yang ada di bangku sekolah ke kehidupan sehari². Lalu apa yang mereka pelajari selama ini? Bukankah itu pemborosan umur? Hal ini sempat menjadi guyonan Deddy Corbusier, "coba guru² di sekolah diminta mengerjakan soal² dari guru lain, apa bisa? Terus kenapa murid diminta bisa mengerjakan soal² dari semua guru?"

Kalau ada orang yang bilang, "orang yang sekolah tentu cara berpikirnya beda dengan orang yang tidak sekolah." Secara umum pernyataan itu benar, tapi yang perlu diluruskan adalah belajar bisa dimana saja bukan? Belajar bisa dengan siapa saja bukan? Apakah belajar harus di sekolah? Nyatanya aku sendiri bertemu dengan orang² yang tidak selesai di bangku sekolah tapi jadi orang besar. Sebut saja Bu Susi yang menjadi menteri, apakah tidak sekolah lantas beliau tidak belajar? Ada juga Pak Iskandar pemilik resto Bumi, apakah tidak lulus SD lantas beliau tidak belajar?

Orientasi sekolah (belajar) inilah yang jadi kritikku. Niatnya belajar itu buat apa? Apa belajar karena hal yang pasti nyambung dengan kehidupan sehingga bermanfaat, apa belajar biar bisa menguasai ilmu terus bingung mau dibuat apa, apa sebatas mencari nilai rapor, atau justru entah ngapain pokok ngehabisin waktu sekolah? Na'udzubillah..