Kali ini melompat ke sesi materi di Waqf Site Visit di Teras Lembang. Aku sengaja lompat karena sesi sebelumnya di PIK2 nggak ada rekaman yang bisa kusimak. Mencatat pun ala kadarnya karena kadang diajak diskusi atau ada request jarak jauh urusan keuangan yayasan. Kalau sebelumnya Prof. Hamid Rasyid dari IIUM presentasi langsung offiline di atas panggung, sekarang beliau hadir online via Zoom. Dalam pemaparannya, beliau mengajak kita melintasi sejarah panjang wakaf, bongkar miskonsepsi yang terlanjur mengakar, sekaligus menantang kita buat nggak gagap hadapi pesatnya perkembangan dunia digital. Ini beberapa catatan dan poin reflektif dari sesi materi beliau. 1. Reorientasi Wakaf: Bukan Cuma Amal Selama ini, masih banyak di antara kita yang anggap wakaf sama dengan zakat atau sedekah biasa. Padahal peran dan sifat dasarnya sangat beda. Zakat adalah kewajiban yang fungsinya sebagai pembersih harta (cleansing fund), mirip seperti pemenuhan kewajiban sosial yang diatur khusus ba...
Hadir langsung di The 2nd Global Conference on Waqf Development (GLOW) 2026 di Menara Syariah, PIK 2, banyak sudut pandang baru yang sangat membuka pikiran. Salah satu momen berkesan buatku adalah menyimak paparan dari Pak Akhmad Akbar Susamto dari Universitas Gadjah Mada. Paparan beliau membongkar pemahaman umum yang selama ini mengendap di masyarakat tentang wakaf produktif. Miskonsepsi 3M: Masjid, Madrasah, dan Makam Selama ini, ketika berbicara tentang wakaf, pikiran sebagian besar dari kita refleks tertuju pada pola "3M": masjid, madrasah, dan makam. Ketiganya biasa dipandang sebagai aset yang "konsumtif" karena operasionalnya bergantung pada bantuan eksternal, macam donasi atau hibah. Di sisi lain, ada anggapan umum bahwa wakaf baru bisa berlabel "produktif" kalau aset itu diubah jadi unit bisnis, macam ruko, kebun, atau jasa lain yang hasilkan keuntungan finansial secara langsung. Namun apa benar ukurannya sesederhana itu? Bongkar Konsep: pisah...