Pukul dua belas lewat tengah malam di Surabaya. Angin bulan Mei berhembus membawa hawa gerah khas kota pelabuhan. Namun, di luar rumah, di bawah separuh bulan Dzulqodah yang menggantung bisu di langit, keheningan ini justru terasa seperti sebuah suaka. Aku duduk di pinggiran sebuah warkop, menyeruput es teh yang perlahan kehilangan embun di dinding gelasnya. Tidak ada bising layar, tidak ada caci maki netizen, tidak ada tangis balita. Hanya ada aku, malam, dan isi kepala yang sedang mencoba menyusun ulang kewarasannya.
Malam ini sebenarnya diawali dengan sebuah ironi yang memalukan. Skenario idealnya: malam Jumat ini aku terlarut dalam radar spiritual surah Al-Kahfi, atau setidaknya, duduk merakit arsitektur infografis untuk membedah kriteria penerima zakat dan menyempurnakan ekosistem 'Da'i Mulia' untuk rapat besok bersama Ketua Pembina.
Tapi faktanya? Pertahananku runtuh.
Satu setengah jam lebih, kesadaranku dibajak total oleh sepotong kaca pipih di genggaman. Aku terhanyut dalam ombak doomscrolling, menelan mentah-mentah lautan video pendek. Sebuah aktivitas repetitif niretika yang diakhiri dengan rasa bersalah yang menganga lebar.
Namun, di pinggiran jalan yang sepi ini, aku belajar untuk bersyukur atas rasa bersalah tersebut. Bukankah penyesalan adalah indikator logis bahwa sensor spiritual kita masih menyala? Hati yang mati tidak akan pernah meratapi waktu yang dirampas; ia justru akan merayakannya dalam kelalaian. Separuh bulan Dzulqodah di atas sana seolah menjadi tamparan visual yang paling presisi: kita sedang berada di bulan haram, prime time peradaban di mana setiap resonansi amal dan dosa dilipatgandakan di radar langit. Sepanjang langkah keluar rumah malam ini, lisanku tak henti merapal istighfar. Bukan sekadar meminta ampun atas waktu yang hangus, tetapi memohon agar sistem kewarasan ini tetap dijaga.
Ilusi Validasi dan Kesepian Eksistensial
Sambil menatap aspal jalanan yang lengang, memoriku terlempar pada mainan baru si kecil, buku suara Al-Qur'an dengan lantunan Muzzammil Hasballah yang dibelikan istriku pekan lalu. Nada tilawahnya yang mellow dan kontemplatif seolah menggaung di kepala, berbenturan dengan sebuah pertanyaan brutal: Ada apa dengan psikologis manusia modern hari ini? Mengapa kita semua begitu kelaparan akan perhatian?
Di dalam layar itu, setiap minat liar manusia diberi panggung. Mesin algoritma berevolusi secara sadis untuk menyandera mata kita agar tidak berkedip. Di satu sisi, ini terlihat seperti ledakan kreativitas. Namun di sisi lain, ini adalah perbudakan massal.
Semenjak SMA, ketika aku masih menjadi kreator game digital, aku sudah dididik untuk memahami mekanika manipulatif ini. Aku diajarkan bagaimana meretas perhatian user dengan menyuntikkan reward interaktif, memompa percikan dopamin ke otak depan mereka agar mereka terus kembali seperti zombie. Tapi malam ini, saat aku mendekonstruksi siklus itu, rasanya luar biasa hampa. Setelah trafik naik, lalu apa? Setelah layar dipenuhi viewer dan reaction, lalu apa?
Kesimpulannya sangat menyayat hati: Manusia modern hari ini pada dasarnya sangat, sangat kesepian. Kita merasa hidup dengan adanya "perhatian interaktif" yang sejatinya fiktif. Netizen tidak sedang memvalidasi jiwa kita; mereka hanya merespons topeng avatar yang kita kenakan. Kita berdiri di tengah parade global, namun mati terisolasi di dalam kamar sendiri.
Keresahan ini sayangnya tidak berhenti hanya pada usapan layar sentuh. Saat aku memaksa mata ini menatap realitas di luar gadget, dunia nyata terlihat tertutup kabut tebal. Kerusakannya sistemik dan berlapis, menjalar dari tingkat seluler hingga struktural negara.
Aku melihat mesin pembunuh bernama rokok tak lagi bersembunyi di etalase toko. Pedagang portabel menyebar di berbagai sudut jalan, mengecer kematian perlahan tanpa pandang bulu.
Aku melihat generasi anak muda yang tulang lehernya menunduk permanen, reseptor dopaminnya hangus digoreng oleh dentuman ajeb-ajeb TikTok, jauh sebelum lobus frontal mereka punya kesempatan untuk memproses apa itu kebijaksanaan.
Di hulu sistem, aku melihat ekonomi yang disetir oleh korupsi struktural, yang secara sadar merawat kemiskinan dan kebodohan di hilir. Tujuannya? Agar siklus kekuasaan populis tetap berjalan, di mana kebijakan dirancang bukan untuk menyelamatkan peradaban, melainkan sekadar untuk membeli tepuk tangan mayoritas yang kehilangan arah.
Bahkan secara biologis, tubuh kita diinvasi. Endokrin manusia mengalami kebingungan massal (endocrine disruptors) karena kita mewariskan udara, air, dan tanah yang dijangkiti polutan, mikroplastik, serta bahan kimia sintetis.
Semuanya terlihat seperti benang kusut raksasa yang nyaris mustahil diurai. Aku pernah mencoba mencari root cause dari bug peradaban ini. Namun malam ini, di bawah langit Surabaya yang diam, kesadaran itu kembali mengkristal pada satu titik kordinat: Semua anarki ini berhulu pada satu hal, hilangnya kalibrasi tertinggi, yaitu keimanan yang tulus kepada Allah, sebuah Tauhid yang utuh.
Manusia yang eror dan bermaksiat akan selalu ada; sejarah mencatat kekhilafan itu bahkan terjadi di ring satu peradaban era Sahabat. Tapi grand question-nya hari ini adalah: Bagaimana cara kita me-reset sistem ini? Bagaimana kita membawa mayoritas umat untuk kembali merakit hidupnya di atas blueprint syariat yang final, dan bersama-sama mengeksekusi perbaikan tanpa harus cengeng meratapi takdir di pinggir jalan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar