04 April 2026

Menghidupkan Kembali "Burung-Burung" Peradaban yang Mati

Kemarin aku mengikuti workshop Agile, salah satu isinya merumuskan purpose of life. Meminjam kerangka berpikir dari Jack Canfield, salah satu penulis di balik seri buku legendaris Chicken Soup for the Soul, yang sering merumuskan life purpose ke dalam formula praktis, sebuah tujuan hidup yang kuat harus menggabungkan tiga elemen dasar: Kata Kerja (Aksi) + Kontribusi/Target + Hasil/Dampak Akhir.

Awalnya aku menuliskan, "MENOLONG dan MELAYANI MASYARAKAT agar mereka hmm.. , rasanya itu purpose nya ASN. Ada sedikit trauma sewaktu menolong orang lain, saat Jumat Berkah misalnya. Mungkin saking banyaknya di Surabaya, orang sampai bertanya, "Apa lauknya?" Wah, batinku bergumam, "Nggak tahu diri". Bahkan ada yang setelah dibagi, dimakan lauknya lalu dibuang nasinya. Astaghfirullah. Umat ini lagi nggak baik-baik saja.

Jadi, mari kita mulai dengan mendekonstruksi sebuah dialog epik yang terekam dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 260). Sewaktu Nabi Ibrahim 'alaihissalam meminta Allah diperlihatkan gimana cara menghidupkan makhluk yang mati, Allah merespons dengan sebuah pertanyaan fundamental: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab dengan lugas: "Aku sudah yakin, akan tetapi agar hatiku tetap tenang (mantap)."

Mari kita tegaskan satu hal: Ibrahim beriman, imannya nggak perlu diperdebatkan. Namun, iman yang sekadar bersarang di dalam dada (Ilmul Yaqin) terkadang butuh pembuktian empiris ('ainul yaqin) di dunia nyata agar konstruksi jiwa jadi benar-benar kokoh, rasional, dan nggak tergoyahkan. Ibrahim menuntut realitas.

Siklus psikologis yang sama sebenarnya lagi menghantam umat Islam hari ini. Secara akidah, kita mengklaim yakin seratus persen bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak. Namun sewaktu umat Islam membuka mata dan melihat realitas duniawi, negara-negara sekuler jauh lebih superior secara teknologi, lebih makmur secara ekonomi, dan secara ironis lebih disiplin, hati umat menjadi "nggak tenang".

Sindrom inferioritas perlahan menggerogoti. Keresahan ini muncul bukan karena kita meragukan Tuhan, tapi karena kita kehilangan pembuktian empiris tentang kejayaan Islam di dunia nyata. Narasi kejayaan kita hari ini lebih sering terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu, bukan realitas hari ini.

Kalau umat Nabi Isa 'alaihissalam bisa minta hidangan langsung turun dari langit (Ma'idah) dan seketika dikabulkan, umat Nabi Muhammad nggak lagi punya kemewahan keajaiban instan semacam itu.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah nabi penutup. Wahyu sudah dikunci 14 abad yang lalu. Tongkat Musa yang bisa membelah lautan secara fisik nggak akan pernah ada lagi. Ini berarti, umat Islam nggak bisa lagi mengatasi ketertinggalan teknologi, krisis ekonomi, kelaparan massal, atau kemalasan akut hanya dengan duduk berdoa menunggu keajaiban, atau yang lebih parah: bersantai menunggu Imam Mahdi turun besok pagi buat membereskan semua pekerjaan rumah peradaban kita.

Mukjizat terbesar yang diwariskan kepada kita bentuknya bukan lagi tongkat ajaib, tapi satu hal: wahyu (Al-Qur'an) yang membangkitkan intelektualitas.

Gelar "Kalian telah menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..." (QS. Ali 'Imran: 110) bukanlah piala kehormatan yang dibagikan secara gratis. Itu adalah sebuah beban tanggung jawab peradaban di dunia. Menjadi "umat terbaik", selain beriman kepada Allah dan menjalankan aman ma'ruf nahi Munkar, menuntut konsekuensi logis: ia harus dibuktikan dengan etos kerja terbaik, inovasi sains terbaik, dan integritas yang paling teguh.

Kembali pada kisah Ibrahim. Allah memerintahkan beliau mengambil empat ekor burung, mencincangnya, meletakkannya di puncak-puncak bukit yang terpisah, lalu memanggilnya. Burung-burung itu hidup dan datang kepadanya.

Bagi umat Islam abad 21, kita harus melakukan hal yang sama. "Empat burung" kita yang saat ini sedang mati dan tercerai-berai di atas bukit kemunduran, bisa jadi adalah etos kerja, iptek, ekonomi, dan integritas.

Kita nggak bisa duduk di kaki bukit dan berharap burung-burung itu merakit dirinya sendiri secara gaib. Kita harus "memanggilnya". Bahasa panggilan peradaban hari ini bukanlah sekadar rapal doa tanpa ikhtiar, tapi dengan manajemen yang disiplin, riset tanpa lelah di laboratorium, pembangunan infrastruktur ekonomi yang adil, dan penolakan garis keras terhadap korupsi. Pembuktian keimanan kita hari ini nggak lagi dengan adu kesaktian, tapi dengan memenangi pertarungan peradaban secara elegan.

Berangkat dari kegelisahan peradaban inilah, kita harus merumuskan ulang alasan kita bangun di pagi hari. Kalau kemunduran umat ini disebabkan oleh hilangnya pembuktian empiris atas kebenaran teks suci, maka aku menolak untuk hanya jadi penonton. Berdasarkan formula tersebut, tujuan hidupku terangkum dalam satu kalimat deklarasi:

"MENGGALI keilmuan dan MENGEKSPRESIKAN kebenaran Islam kepada DUNIA, agar merekaumat Islam PERCAYA DIRI menjadi umat terbaik yang menjunjung tinggi KEADILAN berdasarkan Wahyu, bukan sekadar materialisme semu."

Dunia nggak butuh umat yang hanya pandai bernostalgia. Dunia menuntut pembuktian. Dan pembuktian itu dimulai dari kejelasan tujuan hidup kita hari ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar