Dalam dunia pengembangan diri sekuler, ada satu pertanyaan pamungkas yang sering dilontarkan dengan nada dramatis di sesi seminar-seminar motivasi: " Apa yang ingin orang kenang tentang Anda saat Anda tiada? " Sekilas, pertanyaan itu terdengar heroik, menggugah, dan visioner. Namun kalau kita bedah pakai pisau bedah tauhid, pertanyaan itu sebenarnya menyimpan racun spiritual yang sangat mematikan. Dalam Islam, kita punya satu mesin penggerak utama bernama ikhlas, sebuah kondisi yang tindakan dimurnikan seratus persen hanya untuk Allah. Musuh bebuyutan dari ikhlas adalah riya (haus akan validasi/pandangan manusia) dan sum'ah (lapar agar kebaikannya didengar dan diceritakan orang lain). Pertanyaan "ingin dikenang sebagai apa" sejatinya adalah jebakan maut bagi ego. Kalau kita nggak waspada, obsesi "meninggalkan legacy " akan membajak niat kita. Alih-alih merancang amal jariyah (kebaikan yang terus mengalir melintasi batas umur biologis), kita tanpa ...
Introvert tidak bercerita lewat lidahnya