Sebuah tulisan dari peneliti aerospace Nepal, membawa sebuah cerita yang begitu membekas. Tulisan itu nggak panjang, tetapi cukup buat meruntuhkan cara pandang kita tentang apa yang selama ini kita anggap sebagai prioritas, tentang kelangsungan hidup, dan tentang gimana teknologi raksasa bekerja di luar jangkauan mata kita.
Ia menulis yang secara terjemahan begini:
"Hari itu adalah tanggal 25 April 2015, hari ketika gempa bumi bermagnitudo 7,8 mengguncang Nepal. Saya sedang meminta ayah saya untuk memeriksa pekerjaan rumah saya ketika rak-rak buku tiba-tiba bertumbangan. Sebuah vas yang jatuh mencederai tangan saudara perempuan saya. Selama berminggu-minggu, tak terhitung banyaknya warga Nepal, termasuk keluarga saya sendiri, tidur di tanah terbuka karena kami tidak lagi percaya dinding di sekeliling kami dan lantai di bawah kami. Langit terbuka yang luas adalah satu-satunya hal yang saya anggap aman. Berbaring di sana pada suatu malam, saya ingat merasakan sebuah pemikiran, 'Kamu sangatlah kecil.'
Bertahan hidup dan kesulitan adalah kehidupan yang nyata di Nepal. Kedua hal itu membentuk apa yang dianggap praktis, mendesak, dan dapat diterima untuk diinginkan. Saya mengerti mengapa argumen yang menentang eksplorasi luar angkasa sering kali dimulai dari sana. Namun, jika di situlah argumen itu dimulai, di situ pulalah seharusnya argumen itu tidak berakhir. Karena, ruang angkasa sebenarnya sudah bekerja di atas kami.
Segera setelah terjadinya gempa bumi yang menewaskan hampir 9.000 orang tersebut, satelit dan sistem pemetaan dari penyedia citra satelit internasional seperti Planet dan Digital Globe membantu para tim tanggap darurat untuk memahami tingkat kerusakan, kondisi jalan, lokasi permukiman, rencana penyelamatan, dan memetakan risiko di seluruh Nepal. Data cuaca, jaringan komunikasi, dan sistem navigasi juga sangat bergantung pada infrastruktur yang mengorbit di atas kami.
Nepal tidak mengirim satelit-satelit itu. Kami hanya menggunakannya. Kami tidak punya pilihan lain.
Cerita populer menunjukkan ruang angkasa adalah roket, astronot, dan sains fiksi. Padahal ruang angkasa juga ada peramalan cuaca, respons bencana alam, telekomunikasi, pertanian, penggunaan lahan, pemantauan batas negara, penerbangan, perbankan, televisi, GPS, konektivitas internet, dan data iklim.
Itulah versi tentang ruang angkasa yang paling sering dilewatkan oleh sebagian besar orang di negara-negara berkembang dan negara tertinggal."
Kesalahpahaman Kita Tentang Ruang Angkasa dan Ilusi Pahlawan Tunggal
Kisah dari Nepal malam itu merobek tabir kesadaran baru di kepalaku. Selama ini, budaya populer selalu mendefinisikan "ruang angkasa" sebatas visual roket yang meluncur megah, astronot yang tancapkan bendera, atau kisah fiksi ilmiah pertempuran galaksi. Budaya kita disuapi figur pahlawan yang pakai spacesuit dan berjalan di permukaan bulan.
Padahal, realitas teknologi antariksa jauh lebih mengakar pada denyut nadi kelangsungan hidup manusia sehari-hari. Ruang angkasa adalah sistem peramalan cuaca, respons darurat bencana alam, telekomunikasi, pemantauan krisis pertanian, tata guna lahan, keselamatan penerbangan, sistem perbankan global, sampai pengumpulan data iklim yang jadi garis pertahanan terakhir masa depan bumi kita.
Kesenjangan antara realitas infrastruktur ini dengan dramatisasi Hollywood sebenarnya adalah cerminan dari cacat logika kita dalam memandang arti kesuksesan. Cita-cita populer, sadar atau enggak, sering kali didesain dengan pusat gravitasi pada ego personal. Kita didoktrin jadi tokoh, jadi individu yang wajahnya disorot lampu panggung utama, jadi pahlawan tunggal yang namanya diukir di halaman depan sejarah.
Tulisan dari Nepal itu mengajarkan satu hal fundamental: sewaktu bumi berguncang hebat dan maut mengintai di setiap puing bangunan pada krisis 2015 lalu: yang menyelamatkan nyawa mereka malam itu bukan pahlawan berjubah yang turun dari langit, tapi sekumpulan sistem infrastruktur satelit tak kasatmata, sistem yang dirakit ribuan insinyur tanpa nama, yang beroperasi dalam keheningan ribuan kilometer di atas sana. Para insinyur ini nggak lagi cari panggung, mereka hanya memastikan sistem yang mereka bangun bekerja sempurna untuk mencegah ribuan orang mati kedinginan di daratan.
Ini adalah sebuah tamparan pergeseran paradigma. Sebuah transisi radikal dari ambisi berbasis ego menuju ambisi penyelesaian masalah (problem-solving). "Kita harus mulai membiarkan diri kita digelisahkan oleh masalah-masalah raksasa di sekitar kita, bukan lagi meributkan deretan gelar apa yang akan disematkan di belakang nama kita."
Intermezzo, bayangkan tulisan dalam tanda petik itu dipidatokan oleh yang terhormat bapak presiden kita.
Jebakan Cita-Cita Berbasis Ketokohan
Sejak kita masih duduk di bangku TK, sistem pendidikan dan sosial konsisten mencekoki kita dengan satu pertanyaan semisal: "Kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti?"
Pertanyaan ini terdengar sangat lugu dan suportif. Tapi kalau dibedah, kita akan melihat sebuah pikiran sempit bersembunyi di baliknya. Pertanyaan ini otomatis memaksa otak anak-anak membidik sebuah identitas, profesi spesifik, atau hierarki status. Jawaban yang diharapkan berputar di sekitar: jadi dokter, jadi presiden, atau jadi astronot, atau kalau dihubungkan dengan kondisi gadget sekarang: jadi vlogger alias selebritas di Instagram dan Tiktok. Sejak kecil kita dilatih untuk memuja label, ketokohan, atau sorotan.
Bayangkan kalau pertanyaan itu kita ganti jadi: "Masalah apa yang ingin kamu selesaikan di dunia ini?"
Ruang lingkup cita-cita generasi kita akan meledak. Cita-cita jadi amat sangat jauh lebih luas, kolaboratif, dan relevan dengan krisis zaman. Jadi astronot tentu membanggakan, tapi merancang sistem satelit peringatan dini yang mampu memprediksi tanah longsor atau anomali cuaca justru akan menyelamatkan jutaan nyawa secara riil. Pahlawan peradaban yang sesungguhnya di era modern ini justru mereka yang bekerja di ruang mesin di bumi, mereka yang menopang kehidupan banyak orang secara diam-diam.
Anatomi Hasrat dan Haus Validasi di Era Algoritma
Tantangan terbesar dari pergeseran paradigma ini adalah bawaan dari psikologis manusia itu sendiri. Kita nggak bisa tutup mata bahwa banyak orang memang haus akan pengakuan. Ada obsesi massal buat selalu jadi karakter utama (main character syndrome) di setiap narasi kehidupan.
Sebagai makhluk komunal, insting buat diakui dan dilihat kelompok emang sudah ada sejak zaman dulu. Namun ketika kebutuhan dasar ini jadi tujuan akhir, kompas hidup seseorang akan bergeser drastis dari "nilai apa yang bisa kubagikan" jadi "seberapa banyak tepuk tangan yang akan kudapatkan".
Ada jurang pemisah antara keinginan buat memberi dampak dan hasrat buat jadi pusat perhatian. Saat seseorang disetir oleh rasa lapar akan validasi, orientasinya murni kosmetik alias lapisan permukaan, bukan yang mendalam dan penuh makna. Krisis ini makin parah saat hasrat itu bertemu dengan arsitektur media sosial kita hari ini.
Kesuksesan kini dikuantifikasi lewat metrik yang sangat superfisial: jumlah pengikut, ribuan tombol likes, dan seberapa sering algoritma menempatkan wajah kita di timeline orang lain. Ekosistem digital menciptakan ilusi mematikan bahwa sebuah gagasan atau karya sosial hanya bernilai kalau ia viral.
Secara psikologis, dorongan buat terus tampil heroik ini sering kali merupakan bentuk kompensasi emosional. Kita mengira bahwa untuk membuat perubahan yang sah, kita harus jadi ksatria yang menebas kepala naga sendirian. Padahal kalau kita baca sejarah peradaban tanpa filter romantisasi, perubahan sistemik hampir selalu lahir dari keringat kolektif. Perubahan adalah hasil sinergi ribuan orang biasa yang menolak menyerah, yang nama-namanya bahkan nggak dicatat di Wikipedia.
Orang-orang yang hanya dimotivasi oleh validasi akan selalu memilih proyek yang dramatis di permukaan, tapi kopong di dalam. Mereka menyukai solusi kosmetik yang instagramable untuk press release, tapi enggan menyentuh akar penyakit sosial. Mereka menolak membangun sistem yang berkelanjutan karena merakit sistem itu memakan waktu bertahun-tahun, membosankan, nggak terlihat keren di kamera, dan sepi tepuk tangan di awal perjalanannya. Terlebih lagi, mereka sangat sulit berkolaborasi. Rekan kerja yang brilian nggak dianggap sebagai mitra strategis, melainkan ancaman yang bisa merebut spotlight mereka.
Merawat Kegelisahan Konstruktif
Terus, gimana kita melawan arus narsisisme kultural ini? Kuncinya ada pada merawat kegelisahan yang konstruktif.
Kegelisahan adalah bahan bakar murni dari setiap perubahan peradaban. Rasa muak yang terukur sewaktu lihat ketimpangan hukum, rasa sesak lihat krisis iklim, atau kemarahan lihat sistem kota yang merampas hak pejalan kaki, semua itu adalah motor inovasi yang jauh lebih tangguh daripada sekadar hasrat mengejar jabatan atau status.
Kegelisahan memaksa kita berhenti menatap cermin dan mulai lihat ke luar jendela. Ketika tujuan hidup berakar dari urgensi menyelesaikan masalah, kita nggak akan lagi terpenjara pada ego satu gelar akademik. Kalau aku mau benahi sistem transportasi publik yang kacau, aku segera sadar bahwa aku nggak bisa sendirian. Aku butuh kolaborasi intensif dengan sosiolog komuter, pakar ekonomi subsidi, desainer tata kota, sampai arsitek kebijakan publik. Dalam skala kerja ini, tidak ada lagi yang peduli siapa pahlawannya; yang penting rakyat bisa pulang ke rumah dengan aman dan murah.
Untuk menanamkan ini, kita harus merevolusi ruang kelas kita. Anak-anak jangan lagi disandera oleh rumus dan metrik nilai rapor. Paparkan mereka pada realitas dunia yang berdarah-darah. Ajak mereka berdebat soal kelangkaan air bersih, soal mikroplastik dan PFAS masuk ke rantai makanan, atau soal mengapa gempa berskala sama bisa menghancurkan satu negara sementara negara lain tetap berdiri teguh. "Kita harus mengajari generasi ini untuk merasa nggak nyaman dengan kebodohan dan ketidakadilan sistemik." Intermezzo..
Ada pernyataan menarik dari mantan gubernur Jakarta 2017-2022 ketika menceritakan proses pembuatan transportasi terintegrasi untuk mengurai kemacetan Jakarta. Kita tahu Jakarta itu besar dan padat. Ada banyak organisasi moda transportasi di sana. Berapa kali waktu yang dibutuhkan untuk mufakat membentuk sistem transportasi terintegrasi? 77 kali rapat. Amazing!
Menjadi Infrastruktur Kehidupan
Mengingat kembali langit kelam Nepal, ada satu kebenaran yang tersisa: di malam-malam paling gelap ketika bumi menolak kompromi, harapan nggak pernah datang dari tokoh populer yang meneriakkan kutipan motivasi manis.
Harapan itu memancar dari infrastruktur yang dirancang dengan akurasi presisi. Dari satelit bisu yang menembakkan koordinat logistik, memetakan kehancuran, dan menyambung urat nadi komunikasi yang terputus. Infrastruktur ini nggak butuh ucapan terima kasih dari warga yang menggigil di tenda darurat. Ia hanya menjalankan mandat sistemnya.
Dunia kita hari ini lagi dikepung krisis kompleks yang saling mengunci. Kita nggak akan pernah memenangkan pertarungan ini kalau kita hanya sibuk mencetak influencer intelektual yang pandai merangkai kata bijak di depan ring light, meskipun itu penting lho ya.
Peradaban ini sedang krisis arsitek sistem. Kita butuh lebih banyak pemikir yang sudi tangannya berlumur lumpur realitas. Kita butuh insinyur perangkat lunak yang merakit kode keamanan data dari peretas, peneliti yang lahirkan benih tahan anomali iklim, ahli logistik yang meretas jalan agar kebutuhan bisa menembus desa pedalaman, dan pekerja sosial yang merajut jaring pengaman bagi mereka yang terbuang.
Mereka semua adalah infrastruktur kehidupan manusia modern. Wajah mereka mungkin nggak akan pernah menghiasi papan reklame. Tapi tanpa mereka, peradaban kita akan kolaps seketika saat krisis menghantam.
"Sudah waktunya kita memutar haluan peradaban. Berhentilah terobsesi mendapat tepuk tangan dan mulailah berambisi untuk membangun sesuatu. Sebab pada akhirnya, warisan paling abadi di dunia ini bukanlah nama yang dipahat di atas batu prasasti, melainkan sebuah sistem yang terus menghidupi, melindungi, dan melayani umat manusia, jauh setelah jasad pembuatnya melebur dengan tanah."
Kembali ber-intermezzo..
Belajar dari Dialog Abdul Malik dan Ayahnya
Di tengah keanehan sistemik yang kita rasakan sekarang, ada kisah masyhur disandarkan ke khalifah yang secara urutan terputus dari 4 khalifah pertama tetapi sebagian ulama memasukkannya ke kategori "khulafaur rasyidin", yaitu Umar bin Abdul Aziz.
Kisahnya bermula saat Umar bin Abdul Aziz baru saja dibaiat jadi khalifah, ia mewarisi birokrasi pemerintahan Bani Umayyah yang dipenuhi penyimpangan, korupsi, dan hak-hak rakyat yang dirampas oleh penguasa sebelumnya. Melihat hal itu, Abdul Malik bin Umar, seorang pemuda yang sangat bertakwa, idealis, dan punya semangat menyala-nyala untuk memberantas segala bentuk kezaliman, mendesak ayahnya agar segera melakukan perombakan total dan mengeksekusi semua kebenaran pada hari itu juga.
Abdul Malik bin Umar (sang anak):
"Wahai ayahku, mengapa engkau tak segera melaksanakan berbagai hal (mengurus hak-hak yang dirampas dan menerapkan syariat secara utuh)? Demi Allah, aku tidak peduli sekalipun wajan-wajan yang mendidih merebus kita berdua demi menegakkan kebenaran!"
Umar bin Abdul Aziz (sang ayah):
"Wahai anakku, janganlah engkau tergesa-gesa. Sesungguhnya Allah mencela khamar dalam Al-Qur'an sebanyak dua kali, dan baru mengharamkannya secara tegas pada turunnya ayat yang ketiga.
Sesungguhnya aku khawatir, jika aku memaksakan kebenaran kepada manusia secara sekaligus, maka mereka juga akan menolaknya secara sekaligus. Jika itu terjadi, maka kekacauan yang lebih besar akan muncul."
Umar bin Abdul Aziz amat paham psikologi massa dan sosiologi masyarakat. Ia menyadari bahwa penyakit menahun butuh proses penyembuhan yang telaten. Kezaliman dan kerusakan sistem yang sudah berurat akar bertahun-tahun nggak mungkin dibongkar paksa semalam.
Kalau perubahan dilakukan secara ekstrem, orang-orang yang kehilangan zona nyamannya akan menolak bahkan melawan. Hal ini justru berisiko menghancurkan semuanya dan membuat niat baik tersebut gagal terwujud.
Jadi, optimislah. Amar ma'ruf nahi munkar apa yang bisa kita lakukan untuk membenahi kerusakan secara perlahan? Kolaborasi apa yang bisa kita usahakan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar