Langsung ke konten utama

Reminder: Buat Apa Sekolah?

Bismillah

Baru kali ini terasa punya urgensi untuk menulis di blog. Kadang ada kata² yang ingin kita sampaikan pada keluarga, pada teman, atau rekan kerja tidak kesampaian karena suatu hal, biarkan tulisan ini dibaca oleh dunia..

Hampir 1 dekade yang lalu aku mengkritisi dunia sekolah yang tak punya arah. Bukan, bukannya tak punya arah, tapi arahnya tak lengkap. Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar dengan sungguh² agar nilainya bagus? Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar yang tekun agar bisa tembus di kuliah ternama? Apa kelanjutannya? Dapat posisi kerja yang nyaman yang ujungnya penghasilan yang besar. Sudah, berhenti di situ. Lalu apa yang menjadi masalah?

Aku tidak pernah mendengar dari satu guru pun yang mencourage murid²nya menjadi orang yang bermanfaat atau menjadi orang yang mampu memperbaiki lingkungannya. Paling mentok di "semoga ilmunya barakah" itu pun jarang sekali. Itulah yang kukritisi. Jika ada orang yang menmengatakan "apa masalahnya dengan mendapat penghasilan yang besar? Bukankah dengan dengan penghasilan yang lebih besar mereka bisa membantu lebih banyak?" Terkait hasil akhirnya bisa jadi seperti itu, yang jadi masalah adalah menuju ke arah kebermanfaatan yang nyaris nggak terdengar di bangku sekolah. Apakah dengan penghasilan itu orang² dengan mudah membantu orang lain? Menyumbang proyek reforestasi hutan yang terus dirusak? Atau mendonasikannya ke pemberdayaan daerah² tertinggal? Itu masalah pertama.

Masalah kedua adalah pemborosan umur dalam sekolah. Coba kita lihat mereka yang pergi ke sekolah. Apa yang mereka lakukan? Yap, mereka belajar dari buku atau menyimak penjelasan dari guru. Itu pun untuk sekolah² favorit, itu pun cuma sebagian. Sisanya ngapain? Bermain. Dulu di zamanku sewaktu guru nggak hadir ya diisi dengan bermain kartu, nonton film, atau bahkan sekelas main boyo²an, serius main². 

Okelah coba kita bahas mereka yang sungguh² belajar. Coba tanyakan pada mereka yang sudah lulus 4 tahun yang lalu soal² ujian yang pernah mereka kerjakan sendiri. Apakah mereka bisa? Pasti banyak yang lupa. Itulah masalahnya. Mereka mempelajari banyak hal yang tidak semuanya diteruskan di bangku kuliah. Itu masih kuliah. Coba tanyakan lagi di medan kerja, beda lagi jawabannya. Apalagi masalah kebermanfaatan, bingung gimana cara menerapkan ilmu² yang ada di bangku sekolah ke kehidupan sehari². Lalu apa yang mereka pelajari selama ini? Bukankah itu pemborosan umur? Hal ini sempat menjadi guyonan Deddy Corbusier, "coba guru² di sekolah diminta mengerjakan soal² dari guru lain, apa bisa? Terus kenapa murid diminta bisa mengerjakan soal² dari semua guru?"

Kalau ada orang yang bilang, "orang yang sekolah tentu cara berpikirnya beda dengan orang yang tidak sekolah." Secara umum pernyataan itu benar, tapi yang perlu diluruskan adalah belajar bisa dimana saja bukan? Belajar bisa dengan siapa saja bukan? Apakah belajar harus di sekolah? Nyatanya aku sendiri bertemu dengan orang² yang tidak selesai di bangku sekolah tapi jadi orang besar. Sebut saja Bu Susi yang menjadi menteri, apakah tidak sekolah lantas beliau tidak belajar? Ada juga Pak Iskandar pemilik resto Bumi, apakah tidak lulus SD lantas beliau tidak belajar?

Orientasi sekolah (belajar) inilah yang jadi kritikku. Niatnya belajar itu buat apa? Apa belajar karena hal yang pasti nyambung dengan kehidupan sehingga bermanfaat, apa belajar biar bisa menguasai ilmu terus bingung mau dibuat apa, apa sebatas mencari nilai rapor, atau justru entah ngapain pokok ngehabisin waktu sekolah? Na'udzubillah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Ironi Manusia Modern: Merawat Dosa Sendiri, Mengutuk Dosa Orang Lain

Sebuah kutipan dari seorang guru pernah menampar kesadaranku: "Kita ini sama-sama pendosa; menyukai suatu dosa dan mengutuk orang lain karena melakukan dosa yang tidak kita senangi." ​Kutipan ini menelanjangi ego manusia. Kita sering kali ngerasa lebih suci hanya karena bentuk kesalahan kita beda dengan orang lain. Namun, kutipan ini nggak boleh berhenti jadi pembenaran buat memaklumi kesalahan. Harus ada tambahan yang esensial: sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat kepada Allah . Tanpa taubat dan perbaikan diri, kesadaran bahwa kita semua pendosa hanya akan lahirkan sikap apatis. ​Kalau kita tarik benang merahnya, filosofi tentang "merawat dosa yang disukai dan mengutuk yang tidak disukai" ini sangat relevan dengan berbagai ironi gaya hidup manusia modern saat ini. Ada dua bentuk "polusi" besar yang sering kali kita pelihara tanpa sadar: polusi fisik dan polusi jiwa. ​1. Ironi Polusi Udara: Asap Rokok vs. VOCs ​Kita sangat mudah mengenali dan meng...

Every Child Born to be Special

Bismillah Ketika dirimu menjadi dirimu sendiri, kau baru menyadari bahwa dirimu terlalu berbeda. Dari yang besar hingga yang kecil. Cara pandangmu yang tak ingin tertipu realitas mayoritas, minat olahragamu yang tak suka keramaian, siklus tidurmu yang tidur lebih awal bangun lebih awal sehingga ketika kau terbangun tak ada siapa-siapa untuk bicara, bahkan cara makanmu yang terkadang memegang sendok dengan garpu terbalik.. *ngomong sendiri* Ngelu Setiap orang terlahir spesial, sesuai dengan spesialisasinya masing-masing. Hanya saja, sekolah membuatnya seorang menjadi sama dengan yang lain. Harus menyesuaikan diri apa jadi diri sendiri? Siapa yang akan membimbingku?