Pukul dua belas lewat tengah malam di Surabaya. Angin bulan Mei berhembus hawa gerah khas kota pelabuhan. Namun di luar rumah, di bawah separuh bulan Dzulqodah yang menggantung bisu di langit, keheningan ini justru seperti suaka. Aku duduk di pinggiran warkop, menyeruput es teh yang perlahan kehilangan embun di dinding gelasnya. Tak ada bising layar, tak ada caci maki netizen, tak ada tangis balita. Hanya ada aku, malam, dan isi kepala yang mencoba susun ulang kewarasannya. Malam ini sebenarnya diawali dengan ironi yang. Skenario idealnya, malam Jumat ini aku terlarut dalam surah Al-Kahfi, atau seenggaknya, duduk merakit infografis membedah kriteria penerima zakat dan menyempurnakan ekosistem 'Da'i Mulia' buat rapat besok bersama Ketua Pembina. Tapi faktanya? Pertahananku runtuh. Satu setengah jam lebih, kesadaranku dibajak oleh sepotong kaca pipih di genggaman. Aku terhanyut dalam doomscrolling, menelan mentah-mentah lautan video pendek ketawa ketiwi, kisah penuh iba, atau...
Introvert tidak bercerita lewat lidahnya