Langsung ke konten utama

Postingan

Menikmati Ketidaknormalan Air

Bismillah  Tafakkur ayat laut (QS An Nahl: 14) Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ  "Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur." QS. An-Nahl[16]:14   Allah menundukkan lautan kepada kita agar kita bisa makan ikan, menemukan perhiasan, perahu bisa berlayar, dan mencari karunia Allah yang lain supaya kita bersyukur. Apa hikmah dari lautan yang ditundukkan Allah? Apa maksud Allah menundukkan lautan? Kita sama² tahu, lautan terbentuk dari air yang bercampur dengan mineral² bumi sehingga terasa asin....

Reminder: Buat Apa Sekolah?

Bismillah Baru kali ini terasa punya urgensi untuk menulis di blog. Kadang ada kata² yang ingin kita sampaikan pada keluarga, pada teman, atau rekan kerja tidak kesampaian karena suatu hal, biarkan tulisan ini dibaca oleh dunia.. Hampir 1 dekade yang lalu aku mengkritisi dunia sekolah yang tak punya arah. Bukan, bukannya tak punya arah, tapi arahnya tak lengkap. Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar dengan sungguh² agar nilainya bagus? Betapa banyak guru² yang mencourage murid²nya untuk belajar yang tekun agar bisa tembus di kuliah ternama? Apa kelanjutannya? Dapat posisi kerja yang nyaman yang ujungnya penghasilan yang besar. Sudah, berhenti di situ. Lalu apa yang menjadi masalah? Aku tidak pernah mendengar dari satu guru pun yang mencourage murid²nya menjadi orang yang bermanfaat atau menjadi orang yang mampu memperbaiki lingkungannya. Paling mentok di "semoga ilmunya barakah" itu pun jarang sekali. Itulah yang kukritisi. Jika ada orang yang menmengata...

Ramadan Kali Ini dengan Kali Lalu

Bismillah, Ada beberapa perbedaan Ramadan yang aku jalani saat ini dengan Ramadan sebelumnya. Tahun : jelas beda lah ya Musim : tahun sebelumnya rata-rata kemarau. Sekarang mirip sih, tapi di 10 Ramadan terakhir kali ini banyak mendungnya (bikin khawatir)* Suhu : tahun sebelumnya suhu di beberapa hari Ramadan terakhir sempat 21. Ramadan tahun ini nggak pernah lihat suhu, hehe. Sepertinya nggak sampai 23 sih. Kondisi : tahun kemarin dunia baik-baik saja. Tahun ini negara api menyerang (wabah covid-19), jadinya nggak bisa keluyuran. Kota : 7 hari pertama tahun kemarin di Purwakarta dan Depok, sisanya di Surabaya, beberapa hari terakhir sempat di Sragen-Jogja. Sekarang full di Denpasar. Eh, ngapain di Denpasar? Lokasi : tahun kemarin itu di rumah, di masjid, di kantor, di kereta, di bis, di rumah teman, di kutab, di markas startupnya Pak Iqbal. Tahun ini full di kosan, kadang keluar beli makanan dan bahan makanan sih. Eh, di kosan? Sejak kapan ngekos? Eh, nggak ding. Sempat beberap...

Menanam Tanaman Buat Apa?

Bismillah Saat bertemu kawan lama beberapa hari yang lalu, ada satu pertanyaan yang membuatku terusik. "Menanam (tanaman) itu buat apa?" === Saat ini -bisa dikatakan- manusia memasuki zaman yang belum pernah dicapai makhluk lain: zaman teknologi digital. Alat yang memudahkan kehidupan manusia bernama teknologi ini semakin lama semakin kecil dan praktis. Sebut saja penyampaian berita yang dahulu memerlukan waktu beberapa bulan untuk mengabarkan kehebohan"negara itu terkena wabah". Itupun hanya didengar oleh segelintir orang. Kini, berita heboh bisa segera diketahui banyak orang yang kita tak perlu heran dengannya. Inilah masalahnya. Aku lupa darimana mendapatkan kalimat ini: "Dahulu informasi disimpan begitu ketat supaya penguasa tetap berkuasa. Kini informasi dialirkan begitu deras bahkan dicampur dengan informasi palsu ataupun multitafsir agar terjadi perdebatan di masyarakat sehingga masyarakat tidak sempat membahas hal yang lebih prinsip." B...

Last Day Camp

Bismillah Alhamdulillah, kemarin sudah hari ke 50 (atau ke 41) kemp semi konsentrasi. Terima kasih kepada 300an kawan yang tak berhasil kukenal satu per satu. Terima kasih spesial buat kawan segala usia atas lika-liku kehidupan laiknya pecel tradisional, ada segar, ada pahit, ada pedas. Ada tawa, ketegangan, dan kebijaksanaan. Tak lupa segenap warga yang turut menyambut kami untuk menetap puluhan hari. Ramahnya terasa meresap hingga setiap gigitan makanan dan tegukan minuman yang terhidang secara acak sebelum matahari terbit atau sesudah matahari tenggelam. Tak ada perpisahan, yang ada hanya pertemuan yang tertunda. Biarlah jarak memisahkan kita, karena jarak diperlukan untuk menciptakan kerinduan. Semoga kita tak melupakan pengalaman bersama kita untuk pengamalan sehari-hari menuju bumi Indonesia yang lebih bermartabat.

Eksis

Bismillah Beberapa hari yang lalu aku membaca kisah seorang tawanan Nazi yang menceritakan kondisi orang-orang dalam kamp konsentrasi sebelum hingga sesudah penahanan.

Benturan Budaya: Islam dan Jawa

Bismillah Beberapa malam yang lalu aku menyempatkan diri menonton atraksi wayang kulit semalam suntuk. Enggak sepenuhnya sih, di tengah-tengah aku sempat memilih tidur karena ada inappropriate content . Wayang kulit identik dengan kebudayaan Jawa tingkat tinggi karena memang bahasa yang digunakan adalah Jawa Krama . Tidak semua orang bisa bahasa itu.