Langsung ke konten utama

Obrolan Bersama Orang Rantau

Bismillah

Alhamdulillah, entah kenapa kemarin aku mau manas bolak-balik dari rumah - IBF - kampus - IBF - kampus. IBF adalah singkatan dari Islamic Book Fair, kegiatan (biasanya) tahunan Kota Surabaya untuk memperingati hari jadinya. Jelasnya, aku menjemput teman kampusku yang kutahu sudah hampir setahun belum balik ke kampungnya di Tanah Minang setelah kelulusan.



Bisa dibilang kami cukup dekat. Kami sering diskusi sejak maba mengenai bahasan yang jarang dibahas. Kami adalah segelintir orang yang rela memasuki bahasan menjemukan dan membingungkan di tengah lingkungan fakultas kami yang dibilang hedonis, bahkan sebagian menjuluki fakultas kami sebagai blackspot of call. Sempat tidak ada yang mau mendaftar sebagai calon Ketua BEM-F, bahkan ketika isu pembubaran BEM-F pun tidak ada yang peduli, termasuk diriku, kecuali sedikit.

Selalu ada saja bahasan yang kami cukup enjoy. Kami membincangkan pekerjaan teman-teman angkatan lulusan jurusan yang menyebar dimana-mana dengan cerita KKN. Sementara temanku yang satu ini belum bekerja karena memegang idealismenya.

Saat itu aku belum menceritakan apa yang sedang kutekuni. Dia menanyakan padaku yang intinya adalah tidak sekadar mencari kaya saja, tetapi juga mempertahankan idealisme. Aku pun menjawab, "Kalau ada orang lain yang punya visi besar, bergabunglah."

Sebelum shalat asar, kami makan bersama di salah sekitar Pasar Pucang. Aku pun mulai menceritakan dunia yang sedang kutekuni: menjadi mobile software developer untuk perbaikan pangan Indonesia.

===

Di akhir tur IBF, aku merasa senang dan heran. Senang karena menemukan buku The Harmony of Humanity, ditulis oleh bukan seorang sekularis, tepatnya Prof. Dr. Raghib as Sirjani. Membaca prolognya seakan membuka buku Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Heran karena buku itu masuk dalam obral -kategori buku yang kurang laku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....