Langsung ke konten utama

Malu Satu Halaman

Bismillah

Al Quran, mukjizat terhebat sepanjang masa, yang masih eksis hingga 14 abad, dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat fenomenal lain. Membelah lautan misalnya, mukjizat Nabi Musa untuk zaman ini akan menjadi berita heboh yang viral di dunia maya. Bayangkan saja, ada seribuan orang dikejar pemerintah, lalu pemimpin "pemberontak" membelah lautan hingga seakan-akan ada dua gunung bersebelahan. Para "pemberontak" berhasil menyeberang, sementara pemerintah tenggelam di antara dua gunung air yang menutup kembali. Atau mungkin berita heboh manusia kebal api, dibakar hidup-hidup dalam api raksasa tanpa ada pakaian anti panas pakaian canggih lainnya.

Semua mukjizat fenomenal tersebut hanya akan eksis pada generasi itu saja, selanjutnya akan menjadi cerita yang diwariskan turun-temurun, tak dapat disaksikan secara langsung hingga berubah menjadi dongeng. Berbeda dengan Al Quran. Mukjizat itu masih utuh, masih bisa disaksikan, masih bisa ditantang kebenarannya. Bahkan Al Quran itu sendiri menantang siapapun untuk menandingi kehebatan mukjizat terhebat sepanjang masa.

Alhamdulillah, aku mengenal kawan yang sedang dalam proses menghafal Al Quran seutuhnya. Dia tidak berada di luar negeri, atau di luar kota, kami sering bertemu di sebuah masjid untuk bersujud pada kiblat yang sama. Aku pun memberanikan diri untuk menyetorkan hafalan. Hari ini, kami pun duduk berdekatan, memegang gadget masing-masing dengan aplikasi Al Quran.

"A'udzubillahi min asysyaithani rrajim... dst."

"Lho, sudah? Tiap hari antum hafalan berapa lembar?"

Blarr, pertanyaan itu seakan menampar pipiku dengan kursi lipat. Aku menjawab ala kadarnya sesuai jumlah yang kutambahkan hari itu: 2 ayat.

"Kapan waktu yang antum gunakan buat hafalan"

Blarr, pertanyaan barusan seakan menampar pipiku kedua kalinya dengan kursi lipat. Pertama dari sebelah kiri, kedua dari sebelah kanan. Aku benar-benar malu. Memang, dibandingkan dengan waktu yang ada, aku tidak menggunakannya untuk menghafal kecuali sedikit. Itu pun tidak tiap hari. Jika keinginan hadir, hafalan bertambah, jika tidak, hanya sebatas mengulang.

"Antum coba tiap habis subuh hafalan satu lembar. Itu waktu yang enak menurut ana. Habis duhur diulang, habis asar diulang, habis magrib diulang, habis isya juga. Insya Allah mudah."

Mendengar saran itu, aku mengangguk-angguk sambil tersenyum malu. Satu halaman perhari mungkin bukanlah perkara ringan. Namun satu halaman seharusnya cukup membuatku malu, betapa lalainya aku terhadap kitabku, perkataan mulia dari Yang Maha Mulia, diturunkan kepada Nabi termulia melalui malaikat paling mulia. Apakah aku bagian dari umat yang mulia?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....