Langsung ke konten utama

Desa Pacinta

Bismillah

Mendengar penelitian yang akan kulakukan, sebagian teman-temanku menyarankanku untuk memilih Pacitan sebagai lokasi. Pacinta, biasa kami pelesetkan seperti itu karena butuh kerja keras untuk hidup di sana, butuh cinta supaya betah disana, mungkin. Tapi kukatan, "Ini baru penelitian, belum ke penerapannya."

Sekilas terdengar menarik apa yang terjadi di Pacinta. Tanah berupa bukit-bukit karang tandus dan infrastruktur yang minim membuat Pacinta masuk ke trilogi kabupaten terbelakang di Pulau Jawa: Pacitan, Wonoobo, Wonosari atau disingkat menjadi Pawonsari. Aku pun membayangkan bagaimana hidup di sana, dalam keterbatasan entah ada listrik atau enggak, entah ada sinyal atau enggak karena aku baru merasakan situasi yang mungkin mirip dengan situasi Pacinta, Tulungagung.



Tulungagung, tepatnya di bagian pesisir, merupakan barisan bukit bekas perkebunan Belanda. Dua pekan yang lalu, aku mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang. Memang, ada jalan yang sudah bagus beraspal hotmix, tapi sebagian besar masih jalan berbatu atau sudah beraspal tapi kualitas rendah, rusak. Yang kami rasakan dari kecamatan hingga ke pesisir hanyalah melihat hutan kelapa, ladang jagung, dan ladang ketela. Jenis tanahnya tanah kering yang hanya bisa dipanen setahun sekali untuk ladang. Aku tak bertanya kapan panen kelapa dilakukan.

Dalam perjalanan mencari permukiman warga, kami dipandu orang kelurahan. Aksesnya susah bukan main, hingga terdengar rintihan mobil yang kami tumpangi. "Krak, kratak kratak.." Di tengah perjalanan, kami berhenti untuk menyusuri jalan setapak. Motor pun tak bisa masuk karena harus melewati sungai yang meskipun kecil, tapi cukup terjal dan resiko banjir bandang dari atas. Sesampainya di permukiman warga, kami disambut dengan kepala dusun dengan bahasa khas Tulungagung yang tak dipahami kecuali aku seorang. Rumahnya sederhana, dari kayu. Tidak ada sinyal, listrik harus berhemat-hemat karena berasal dari kabel oloran rumah nun jauh di balik bukit. Uniknya, mereka tidak merasa miskin dengan kondisi yang demikian karena masih bisa makan meskipun hanya ketela.
Airnya dari mana pak? Peh, dari kali dek
Yep, itulah secuil kondisi Tulungagung pedalaman yang mungkin ada kemiripan dengan Pacinta. Aku nggak tau persisnya Pacinta seperti apa, tetapi aku merasa kondisi di Tulungagung masih layak untuk ditinggali. Melihat kondisi tanahnya yang tandus pun masih bisa dilakukan rekayasa fisik tanah untuk menjadikannya subur untuk pertanian beberapa tahun ke depan atas izin Allah. Ya, aku ingin bisa tinggal di desa pertanian. Aku ingin melakukan revolusi pertanian dengan slogan, "Berikan manusia pekerjaan yang tak bisa dilakukan oleh mesin."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....