Langsung ke konten utama

Fenomena Alam

Bismillah

Asar pun tiba. Aku bergegas menuju masjid dekat rumah karena hari ini aku nggak ke kampus. Entah apa yang kulihat ada kemiripan dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Sejarah memang berulang kan?


Mendung tebal, bersamaan dengan particle swarm of dragonflies. Capung-capung itu secara masif seolah-olah ada yang mengumpulkan. Fenomena yang lalu, setelah capung itu pergi, angin kencang disertai kilatan-kilatan petir turut menghujani bumi tempatku berpijak *opo ae*, tapi kali ini agak berbeda. Kerumunan lebih banyak, sebelum asar hingga setelah asar kerumunan masih bergerak mengarah ke barat, alias menjauhi laut. Kukira kerumunan itu sudah selesai pergi, tapi ternyata aku memandang jauh lebih tinggi, kerumunan itu masih banyak bergerak bersama dengan burung-burung nan tinggi di sana. Entahlah, apa yang akan terjadi kemudian..

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....