Langsung ke konten utama

Rapat RT

Bismillah

Kemarin malam, ada rapat RT di balai RT. Karena bulan ini bulan Agustus, bisa ditebak apa bahasannya. Orang tuaku tak bisa menghadiri rapat itu karena ada agenda lain. Aku datang ke rapat itu mewakili orang tuaku.

Aku berangkat dari rumah kira-kira pk. 19.30. Jadwalnya sih 19.00, tapi seusai shalat isya aku lewat balai RT, karpet sudah digelar, lampu sudah dinyalakan, tapi tak ada orang. Ketika aku datang ke balai RT pun juga masih sepi. Mungkin mereka masih khusyuk shalat sunnah, semoga saja.

Balai RT, ilustrasi doang
Kira-kira setengah jam kemudian rapat dimulai. Kami duduk melingkar dengan makanan ringan di hadapan kami. Aku amati wajah-wajah peserta rapat, banyak orang baru. Daerahku memang daerah berkembang, banyak rumah baru terbangun. Wajar saja wajah-wajah baru muncul. Yang menjadi tak wajar adalah mereka sudah akrab dengan warga asli. Mereka yang adaptif atau aku yang tak pernah interaksi dengan mereka?

Benar saja. Setelah pemberitahuan laporan triwulan keuangan RT, pembicaraan mulai membahas acara tujuh belasan. Mas Deny, selaku wakil kartar menceritakan acara tujuh belasan tahun lalu. Warga yang lain mulai menanggapi. Ada yang menawarkan sarana olahraga, request lomba, usulan pembentukan panitia kecil, dll.

Setelah, pembahasan mengenai tujuh belasan, ternyata tebakanku kurang tepat, masih ada bahasan lain. Masalah keamanan, seputar kebersihan, juga persampahan. Tak jarang di antara pembahasan itu nyambung ke pembahasan tujuh belasan dan anggaran keuangan.

Hal unik yang kudapati dari rapat itu adalah, masing-masing warga memiliki latar yang berbeda. Ada yang pengusaha, pegawai bank, mmm, aku tak begitu tahu sih. Banyak orang baru di sana. Aku menyimpulkan latar mereka berbeda dari wajah-wajah mereka. Wajah-wajah mereka terbentuk sesuai dengan apa yang mereka makan sehari-hari plus gaya hidup mereka. *pengamatan SMA* Bukan itu yang jadi uniknya. Uniknya adalah pendapat yang mereka keluarkan mereka usahakan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Penggunaan bahasa ceplas-ceplos Surabaya pun isi pembicaraannya seputar kesantunan pemungut iuran denda. Wew.

Memang, secara bahasan tidak sedalam rapat-rapat di kampus dengan rujukan pendapat. Mereka mengajukan pendapatnya secara spontan, melihat kenyataan yang ada. Usulan mereka juga kongkrit. Bukan itu poinnya. Poinnya adalah, jika kubandingkan dengan diskusi-diskusi yang ada di kampus juga di dunia maya, keinginan menahan diri dari menyinggung perasaan orang lain itu sangat sedikit. Jauh sekali. Hmm, inikah watak luhur orang-orang timur yang dibicarakan orang luar?

Bisa dibilang, adab memang sedikit bahkan telah hilang dari generasi muda, gara-gara sistem pendidikan yang luput dari memikirkan aspek itu dan media massa yang menyuburkan itu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....