Malam itu, perbincangan dengan seorang tetangga lama di gang rumah sebelumnya membawaku pada perenungan panjang. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang meluap-luap, ia menceritakan epik mudiknya ke desa. Di matanya, perayaan malam Idul Fitri di desanya tahun ini adalah puncak dari segala kemegahan.
Formula keagungannya, menurut narasinya, diukur dari skala logistik dan kebisingan: sebuah armada pawai takbiran dari 50-an mobil, dikawal tiga pikap pengangkut sound horeg.
Buat yang belum familier, sound horeg bukan cuma pengeras suara biasa, tapi monster audio, tumpukan speaker raksasa dirancang buat menggetarkan kaca jendela, merontokkan genteng, dan memompa detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya. Malam itu di jalanan desa, sound horeg ditahbiskan jadi monumen kemeriahan.
Euforia massa ternyata nggak bisa dibendung cuma satu ronde. Setelah menginvasi jalanan selepas Isya sampai 10 malam, adrenalin warga belum juga surut. Pukul 11 malam, monster bising ini kembali dihidupkan, membelah keheningan malam perpisahan dengan bulan suci, entah sampai jam berapa. Warga bersorak. Di mata mereka, ini sebuah kemenangan mutlak.
Namun bagian paling ironis dari narasi ini yang dianggap jadi nilai plus adalah manuver panitia memberi "legitimasi religius" pada karnaval desibel tinggi itu. Didatangkanlah rombongan santri dari pesantren mentereng, L******n, diimpor khusus buat memimpin gema takbir di atas kendaraan sekaligus jadi imam dan khatib keesokan harinya.
Ia menutup ceritanya dengan kesimpulan betapa "wah" dan suksesnya malam itu. Aku cuma tersenyum dan mengangguk. Namun di dalam kepalaku sebuah dekonstruksi makna sedang terjadi, seolah-olah, kesakralan itu bisa di-outsourcing-kan.
Selama ada barisan santri bersarung melafalkan kalimat takbir di garis depan, betapapun brutalnya distorsi bass menghajar dada di belakang mereka, acara pesta pora tersebut akan tetap berstempel "islami". Agama direduksi fungsi dan maknanya.
Di sinilah akal sehat dan empati spiritual kita diuji. Kalau kemenangan Idul Fitri, kembalinya manusia pada fitrah, dirayakan lewat membunuh keheningan dan merampas waktu kontemplasi, lalu buat apa sebenarnya rutinitas menahan lapar dan dahaga selama 30 hari ke belakang?
Bukankah esensi puasa Ramadan adalah sebuah madrasah agung buat menundukkan ego, mengendalikan syahwat duniawi, dan menajamkan kepekaan batin? Gimana mungkin bulan yang melatih kita buat berinteraksi dalam senyap dengan Rabb di sepertiga malam, ditutup dengan kebrutalan audio yang justru menenggelamkan suara hati itu sendiri?
Di tengah kebanggaannya atas rentetan mobil dan getaran sound horeg itu, terselip sebuah pertanyaan eksistensial yang menyedihkan: apa nggak ada setitik pun rasa kehilangan di hati kita waktu Ramadan pergi? Air mata perpisahan dengan bulan suci yang biasanya menetes di atas sajadah, malam itu digantikan deru distorsi speaker raksasa.
Pada akhirnya, malam takbiran di desa itu, yang mungkin juga di desa-desa lainnya, merekam tragedi modern: peradaban kita sangat mahir merayakan cangkangnya, tapi entah sejak kapan kita kehilangan isinya.