Langsung ke konten utama

Keluarga Besar

Bismillah

Sejak pengajaran keluarga besar kelas 1 SD aku tak paham. Apa itu paman, apa itu bibi. Padahal aku sudah bertanya beberapa kali, dijelaskan beberapa kali dengan diagram, aku tetap tak paham.

Pada saat seleksi olimpiade sains komputer tingkat kota, ada sebagian soal logika yang membahas tatanan keluarga. Aku saat itu hanya paham siapa itu ayah, ibu, anak, kakak, adik, kakek, nenek, paman, bibi, suami, istri. Ketika muncul kata sepupu dan keponakan, buyar tatanan logikaku dalam hal keluarga. Hasilnya, seluruh soal yang membahas tatanan keluarga, aku salah semua, dan tak lolos seleksi.

Mengenai paman dan bibi, aku merasa terganggu dengan dua istilah ini. Paman memiliki sinonim kata om, bibi memiliki sinonim kata tante. Seringkali kita bertemu dengan orang tua teman kita, lalu kita memanggil orang tuanya dengan sebutan tante dan om. Itu melanggar logikaku. Padahal jelas-jelas dari keluarga yang berbeda, tidak punya kakek atau nenek yang sama, tetapi seringkali dipanggil tante dan om. Ada apa ini?

Beberapa bulan yang lalu, aku membaca komik Chinmi, ditulis oleh Takeshi Maekawa (Jepang), bercerita mengenai bela diri China, dengan bahasa pengantarnya Bahasa Inggris karena daring. Suatu ketika Chinmi berhasil memasuki daerah tertutup yang Kaisar dari pusat kerajaan penasaran dengan kondisinya. Chinmi menginap di rumah seorang penjahit yang baik sehingga tak hanya memberi Chinmi penginapan, tetapi juga makanan. Chinmi pun berterima kasih kepadanya dengan kata-kata "Thanks Aunty".

Sejenak pembacaanku terhenti. Jangan-jangan ini memang bagian dari budaya ketimuran. Aku pun tersadar bahwa penyebutan Bu ataupun Pak kepada orang tua teman kita itu terlalu formal. Sebutan itu lebih cocok untuk rekan kerja yang lebih senior daripada orang tua teman sendiri.

Namun, penasaranku masih belum hilang. Darimanakah menyebut orang tua teman sendiri dengan sebutan om dan tante? Apakah istilah itu dipopulerkan oleh MTV yang Jakarta-sentris? Mengapa kita tidak menggunakan kata paman dan bibi saja?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Variasi Mobil Ternyata Ada Banyak

Bismillah Ada cerita tersendiri aku menghafal mobil. Sebelum aku menghafal mobil, aku menganggap semua mobil itu mirip: beroda empat, dua di depan, dua di belakang, besar, punya penutup. Aku tidak mengidentifikasi lebih lanjut. Haha.. Pertama kali aku menyadari adanya variasi mobil adalah ketika LDKMS. Saat itu aku dan beberapa panitia berjalan-jalan di saat lengang di lapangan utara. *aku tak ingat siapa yang berbicara* ada yang bertanya, "Jazz iki wek e sopo?" temannya menjawab, "Wek e X, podo koyok wek e Bianda." Sontak aku bertanya dalam hati, "Mobilnya Bianda Jazz? Kok beda sama yang ini ya?"

Promo Spesial : Insists

Bismillah Tak perlu bercakap banyak, peradaban dari timur jauh yang sempat dimotivasikan Ust. Salim A. Fillah mulai terlihat. Kau bisa menemukannya di sana..

Konvoi Ngapain

Bismillah Kemaren lusa, aku baru saja mewujudkan sikapku dalam berorganisasi di JMMI. Mengobrol santai bareng mas Fain, setelah futsal bareng jurusan, di sekpa. Diawali dari perbincangan mencari istri yang pas, yaitu yang nggak hanya mendidik anak putrinya tapi juga anak putranya, dilanjutkan dengan perbincangan santai aktivitasku di kampus 2 tahun terakhir. Saat itulah aku meminta dinon-aktifkan dari JMMI, untuk meluruskan pikiran-pikiranku yang terpintal tak karuan, mundur selangkah untuk melompat lebih tinggi. Sekitar pukul 22.23, aku pulang mengendarai motorku melewati rute biasanya, memilih rute yang lebih asri, lebih hijau, lebih tenang. Di jalan yang satu arah itu, ada segerombolan motor dan mobil lagi konvoi melawan arus sambil membunyikan klakson. "Tiiin! Tiiin!" Aku tetap melajukan motorku 50 meter dari mobil di depanku. Ketika mobil di depanku meminggir, rombongan terlihat dan mulai melintas. Ada satu orang membawa bendera plus (+) yang berarti membawa jenazah....